Wednesday, 27 June 2012

-No Mention-




”Puisilah yang paling sepi, menyimpan cinta yang tersembunyi. Akulah yang selalu menanti dan mengagumi”

"Aku pikir aku mampu mengejarmu, perlahan-lahan walau terlambat. Namun ternyata, aku tak dapat. Kamu sibuk mengejarnya dan aku pun tersesat." Tia Setiawati kurasa sudah cukup mewakili segala ironi yang kurasa.

Baiklah tidak mengapa.Silahkan berpetualang sepuasmu, sampai kamu lelah. Tapi ingatlah dan berpikirlah sekali lagi, saat kamu akan pergi. Mungkin nanti ketika kamu ingin kembali, aku sudah beranjak, dan cinta sudah tak berpijak. Karena sekali lagi aku tak mau sepi.

Sunday, 17 June 2012

-aku (waktu)-


Sesungguhnya aku adalah ilusi yang diciptakan dan disepakati oleh kalian. Aku adalah apa yang pendahulumu temukan. Tidak ada masa lalu atau masa depan. Yang ada hanya sekarang. Detik, menit, jam hanyalah ungkapan. Apapun istilahnya mereka hanya penanda. Untuk mengingatkanmu akan hal-hal yang telah dan ingin kamu lakukan. Janganlah terjebak kepada hal-hal indah yang dimakan waktu. Janganlah menanti kesempatan untuk menyambut apa yang telah berlalu darimu. Ciptakan hidupmu tanpa waktu. Sekarang. Usah kau mengintip masa depan atau menengok ke belakang. Hidupi hidupmu sekarang, karena semesta tak berbatas.

Wednesday, 13 June 2012

-Tuan Sempurna-




Saat kamu mencintai seseorang, kamu akan mencintai dirinya, bahasanya, budayanya. Kamu akan mencari tau detail kehidupannya dan bagaimana dia. Lalu kamu akan bercerita tentangnya disetiap penjuru waktu disetiap mata yg kau jumpa.

Ketika kamu menerima kesalahan darinya, kamu akan meminta hatimu untuk memakluminya. “Semua orang pasti pernah berbuat salah” itu katamu . Ketika semua resah akan keburukannya dan enggan menerimanya, kamu hanya akan diam dan tersenyum. Sekali lagi kau akan meyakinkan hatimu bahwa itu tak mengapa, itu ciri khasnya , tenang saja. Ketika sosok temanmu meragukannya. Apa kau yakin ? dalam hati sungguh  kau berat menerima pertanyaannya. Antara kau juga sedang meragu dengan apa yg kamu lihat dan apa yang tengah dilihat oleh temanmu yang mampu menjadikannya ragu pada pilihanmu.

Thursday, 7 June 2012

-hei pendusta-



Kamu yg mendustai kata
Apa kau tau 
Ketika itu,kau tengah melupakan sesuatu
Serapah yg kau ucap terus kau buang sebagai sepah
Menjadi karma kelam yg melatah secara tajam
Jika suatu saat akan menimpa
Apa kau masih bangga ?

Hei, pendusta
Kenapa lidahmu selalu saja meludah tanpa makna
Andai kau tau
Tangan Tuhan tak pernah ingkar pada azab yang murka
Percayalah 
Pendusta tak akan pernah menikmati dustanya

-Kepada kamu si penyepik ulung-


Halo tuan, apa kabar? Lama tak bersua di linimasa, tempat dimana kita bisa saling memberi tawa. Ah entah, kapan bisa bertatap muka di dunia nyata.

Rindu? Kau bertanya rindu padaku? Ah yang benar saja.. Jelas aku rindu. Bagaimana tidak? Mendadak kau hilang dari peredaran. Bukan lagi seperti di telan bumi, kau seperti banjir Jakarta; dengan tiba-tiba datang mengagetkan warganya yang belum ada persiapan.

Aku ingin berterimakasih padamu, atas kehadiranmu, atas keberanianmu mengambil langkah pertama menapaki hati; sebuah ruang kosong di dalam sini, dalam dada sebelah kiri. Berdebu-kah disana? Hehe. Maaf aku belum sempat benar-benar membersihkannya sejak terakhir ditinggal penghuni sebelumnya.

Sejak saat itu kicaumu tak pernah lagi terlihat, boleh aku tanya kenapa? Terlalu gelap-kah di dalam sana, -membuatmu tak betah? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu menuju ruang itu? Hingga mungkin bukan pergi, melainkan hanya tertidur lama sekali, nyenyakkah tidurmu disana, tuan?

Ku harap kau tak salah paham. Aku bukan menangkis uluran tanganmu. Ku persilakan kau memasuki ruang itu, melihat-lihat. Jika berkenan, tinggallah. Jika memang hanya ingin melihat, hanya membantu aku membereskan ruangan pun tak apa. Terserah kau saja.

Maaf mungkin aku terlalu egois. Namun ku kira ini sebuah proses. Aku mencoba tak menyakiti siapa pun. Hanya ingin membenahi aku. Aku tak menyangkal, aku pun butuh bantuan. Entah darimu, atau dari selain kamu. Aku tak bermaksud membuatmu terjebak di dalam sana. Itulah kenapa aku tak mengiyakan semua apa yang kau ingin beri.

Sesungguhnya kau sudah mencuri perhatianku.

Salam, :)

-ketikan sebuah doa-




Kepada : Tuhan
Perihal  : Semuanya

Halo, Tuhan. Semoga surat ini sampai padamu, dan bila ada waktu sekiranya Kau dapat membacanya.

Pertama, aku mau minta maaf karena telah lama tidak membaca ayat suci-Mu. Karena telah lama tidak bersimpuh menyembah-Mu khusyuk. Karena telah lama melupakan yang Kau pinta. Karena telah lama asik melanggar larang-Mu.
Aku minta maaf.

Kedua, aku minta maaf karena mata dari-Mu ini lebih banyak aku gunakan untuk membaca belasan page dunia maya dan memalingkan kitab suci. Aku minta maaf karena telinga dari-Mu ini lebih banyak aku gunakan untuk mendengar lagu-lagu terbaru dan menolak lantunan doa.
Aku minta maaf.

Ketiga, aku minta maaf karena ahli surga meminta maaf dengan menengadahkan kepala dan tangan di atas sajadah, aku malah mengetikkannya secara virtual.

Dari,
hamba-Mu

Wednesday, 27 June 2012

-No Mention-




”Puisilah yang paling sepi, menyimpan cinta yang tersembunyi. Akulah yang selalu menanti dan mengagumi”

"Aku pikir aku mampu mengejarmu, perlahan-lahan walau terlambat. Namun ternyata, aku tak dapat. Kamu sibuk mengejarnya dan aku pun tersesat." Tia Setiawati kurasa sudah cukup mewakili segala ironi yang kurasa.

Baiklah tidak mengapa.Silahkan berpetualang sepuasmu, sampai kamu lelah. Tapi ingatlah dan berpikirlah sekali lagi, saat kamu akan pergi. Mungkin nanti ketika kamu ingin kembali, aku sudah beranjak, dan cinta sudah tak berpijak. Karena sekali lagi aku tak mau sepi.

Sunday, 17 June 2012

-aku (waktu)-


Sesungguhnya aku adalah ilusi yang diciptakan dan disepakati oleh kalian. Aku adalah apa yang pendahulumu temukan. Tidak ada masa lalu atau masa depan. Yang ada hanya sekarang. Detik, menit, jam hanyalah ungkapan. Apapun istilahnya mereka hanya penanda. Untuk mengingatkanmu akan hal-hal yang telah dan ingin kamu lakukan. Janganlah terjebak kepada hal-hal indah yang dimakan waktu. Janganlah menanti kesempatan untuk menyambut apa yang telah berlalu darimu. Ciptakan hidupmu tanpa waktu. Sekarang. Usah kau mengintip masa depan atau menengok ke belakang. Hidupi hidupmu sekarang, karena semesta tak berbatas.

Wednesday, 13 June 2012

-Tuan Sempurna-




Saat kamu mencintai seseorang, kamu akan mencintai dirinya, bahasanya, budayanya. Kamu akan mencari tau detail kehidupannya dan bagaimana dia. Lalu kamu akan bercerita tentangnya disetiap penjuru waktu disetiap mata yg kau jumpa.

Ketika kamu menerima kesalahan darinya, kamu akan meminta hatimu untuk memakluminya. “Semua orang pasti pernah berbuat salah” itu katamu . Ketika semua resah akan keburukannya dan enggan menerimanya, kamu hanya akan diam dan tersenyum. Sekali lagi kau akan meyakinkan hatimu bahwa itu tak mengapa, itu ciri khasnya , tenang saja. Ketika sosok temanmu meragukannya. Apa kau yakin ? dalam hati sungguh  kau berat menerima pertanyaannya. Antara kau juga sedang meragu dengan apa yg kamu lihat dan apa yang tengah dilihat oleh temanmu yang mampu menjadikannya ragu pada pilihanmu.

Thursday, 7 June 2012

-hei pendusta-



Kamu yg mendustai kata
Apa kau tau 
Ketika itu,kau tengah melupakan sesuatu
Serapah yg kau ucap terus kau buang sebagai sepah
Menjadi karma kelam yg melatah secara tajam
Jika suatu saat akan menimpa
Apa kau masih bangga ?

Hei, pendusta
Kenapa lidahmu selalu saja meludah tanpa makna
Andai kau tau
Tangan Tuhan tak pernah ingkar pada azab yang murka
Percayalah 
Pendusta tak akan pernah menikmati dustanya

-Kepada kamu si penyepik ulung-


Halo tuan, apa kabar? Lama tak bersua di linimasa, tempat dimana kita bisa saling memberi tawa. Ah entah, kapan bisa bertatap muka di dunia nyata.

Rindu? Kau bertanya rindu padaku? Ah yang benar saja.. Jelas aku rindu. Bagaimana tidak? Mendadak kau hilang dari peredaran. Bukan lagi seperti di telan bumi, kau seperti banjir Jakarta; dengan tiba-tiba datang mengagetkan warganya yang belum ada persiapan.

Aku ingin berterimakasih padamu, atas kehadiranmu, atas keberanianmu mengambil langkah pertama menapaki hati; sebuah ruang kosong di dalam sini, dalam dada sebelah kiri. Berdebu-kah disana? Hehe. Maaf aku belum sempat benar-benar membersihkannya sejak terakhir ditinggal penghuni sebelumnya.

Sejak saat itu kicaumu tak pernah lagi terlihat, boleh aku tanya kenapa? Terlalu gelap-kah di dalam sana, -membuatmu tak betah? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu menuju ruang itu? Hingga mungkin bukan pergi, melainkan hanya tertidur lama sekali, nyenyakkah tidurmu disana, tuan?

Ku harap kau tak salah paham. Aku bukan menangkis uluran tanganmu. Ku persilakan kau memasuki ruang itu, melihat-lihat. Jika berkenan, tinggallah. Jika memang hanya ingin melihat, hanya membantu aku membereskan ruangan pun tak apa. Terserah kau saja.

Maaf mungkin aku terlalu egois. Namun ku kira ini sebuah proses. Aku mencoba tak menyakiti siapa pun. Hanya ingin membenahi aku. Aku tak menyangkal, aku pun butuh bantuan. Entah darimu, atau dari selain kamu. Aku tak bermaksud membuatmu terjebak di dalam sana. Itulah kenapa aku tak mengiyakan semua apa yang kau ingin beri.

Sesungguhnya kau sudah mencuri perhatianku.

Salam, :)

-ketikan sebuah doa-




Kepada : Tuhan
Perihal  : Semuanya

Halo, Tuhan. Semoga surat ini sampai padamu, dan bila ada waktu sekiranya Kau dapat membacanya.

Pertama, aku mau minta maaf karena telah lama tidak membaca ayat suci-Mu. Karena telah lama tidak bersimpuh menyembah-Mu khusyuk. Karena telah lama melupakan yang Kau pinta. Karena telah lama asik melanggar larang-Mu.
Aku minta maaf.

Kedua, aku minta maaf karena mata dari-Mu ini lebih banyak aku gunakan untuk membaca belasan page dunia maya dan memalingkan kitab suci. Aku minta maaf karena telinga dari-Mu ini lebih banyak aku gunakan untuk mendengar lagu-lagu terbaru dan menolak lantunan doa.
Aku minta maaf.

Ketiga, aku minta maaf karena ahli surga meminta maaf dengan menengadahkan kepala dan tangan di atas sajadah, aku malah mengetikkannya secara virtual.

Dari,
hamba-Mu
© 29 September
Maira Gall