Thursday, 7 June 2012

-Kepada kamu si penyepik ulung-


Halo tuan, apa kabar? Lama tak bersua di linimasa, tempat dimana kita bisa saling memberi tawa. Ah entah, kapan bisa bertatap muka di dunia nyata.

Rindu? Kau bertanya rindu padaku? Ah yang benar saja.. Jelas aku rindu. Bagaimana tidak? Mendadak kau hilang dari peredaran. Bukan lagi seperti di telan bumi, kau seperti banjir Jakarta; dengan tiba-tiba datang mengagetkan warganya yang belum ada persiapan.

Aku ingin berterimakasih padamu, atas kehadiranmu, atas keberanianmu mengambil langkah pertama menapaki hati; sebuah ruang kosong di dalam sini, dalam dada sebelah kiri. Berdebu-kah disana? Hehe. Maaf aku belum sempat benar-benar membersihkannya sejak terakhir ditinggal penghuni sebelumnya.

Sejak saat itu kicaumu tak pernah lagi terlihat, boleh aku tanya kenapa? Terlalu gelap-kah di dalam sana, -membuatmu tak betah? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu menuju ruang itu? Hingga mungkin bukan pergi, melainkan hanya tertidur lama sekali, nyenyakkah tidurmu disana, tuan?

Ku harap kau tak salah paham. Aku bukan menangkis uluran tanganmu. Ku persilakan kau memasuki ruang itu, melihat-lihat. Jika berkenan, tinggallah. Jika memang hanya ingin melihat, hanya membantu aku membereskan ruangan pun tak apa. Terserah kau saja.

Maaf mungkin aku terlalu egois. Namun ku kira ini sebuah proses. Aku mencoba tak menyakiti siapa pun. Hanya ingin membenahi aku. Aku tak menyangkal, aku pun butuh bantuan. Entah darimu, atau dari selain kamu. Aku tak bermaksud membuatmu terjebak di dalam sana. Itulah kenapa aku tak mengiyakan semua apa yang kau ingin beri.

Sesungguhnya kau sudah mencuri perhatianku.

Salam, :)

No comments

Post a Comment

Thursday, 7 June 2012

-Kepada kamu si penyepik ulung-


Halo tuan, apa kabar? Lama tak bersua di linimasa, tempat dimana kita bisa saling memberi tawa. Ah entah, kapan bisa bertatap muka di dunia nyata.

Rindu? Kau bertanya rindu padaku? Ah yang benar saja.. Jelas aku rindu. Bagaimana tidak? Mendadak kau hilang dari peredaran. Bukan lagi seperti di telan bumi, kau seperti banjir Jakarta; dengan tiba-tiba datang mengagetkan warganya yang belum ada persiapan.

Aku ingin berterimakasih padamu, atas kehadiranmu, atas keberanianmu mengambil langkah pertama menapaki hati; sebuah ruang kosong di dalam sini, dalam dada sebelah kiri. Berdebu-kah disana? Hehe. Maaf aku belum sempat benar-benar membersihkannya sejak terakhir ditinggal penghuni sebelumnya.

Sejak saat itu kicaumu tak pernah lagi terlihat, boleh aku tanya kenapa? Terlalu gelap-kah di dalam sana, -membuatmu tak betah? Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu menuju ruang itu? Hingga mungkin bukan pergi, melainkan hanya tertidur lama sekali, nyenyakkah tidurmu disana, tuan?

Ku harap kau tak salah paham. Aku bukan menangkis uluran tanganmu. Ku persilakan kau memasuki ruang itu, melihat-lihat. Jika berkenan, tinggallah. Jika memang hanya ingin melihat, hanya membantu aku membereskan ruangan pun tak apa. Terserah kau saja.

Maaf mungkin aku terlalu egois. Namun ku kira ini sebuah proses. Aku mencoba tak menyakiti siapa pun. Hanya ingin membenahi aku. Aku tak menyangkal, aku pun butuh bantuan. Entah darimu, atau dari selain kamu. Aku tak bermaksud membuatmu terjebak di dalam sana. Itulah kenapa aku tak mengiyakan semua apa yang kau ingin beri.

Sesungguhnya kau sudah mencuri perhatianku.

Salam, :)

No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall