Wednesday, 27 June 2012

-No Mention-




”Puisilah yang paling sepi, menyimpan cinta yang tersembunyi. Akulah yang selalu menanti dan mengagumi”

"Aku pikir aku mampu mengejarmu, perlahan-lahan walau terlambat. Namun ternyata, aku tak dapat. Kamu sibuk mengejarnya dan aku pun tersesat." Tia Setiawati kurasa sudah cukup mewakili segala ironi yang kurasa.

Baiklah tidak mengapa.Silahkan berpetualang sepuasmu, sampai kamu lelah. Tapi ingatlah dan berpikirlah sekali lagi, saat kamu akan pergi. Mungkin nanti ketika kamu ingin kembali, aku sudah beranjak, dan cinta sudah tak berpijak. Karena sekali lagi aku tak mau sepi.


Aku pernah, mencintaimu berkali-kali, lagi dan lagi. Namun itu pun tak pernah cukup, bahkan sampai hari ini. Apa sekali lagi aku harus menanti ?Kusebut namamu berkali-kali, dalam doa, dalam lagu, dalam puisi-puisi. Ironi, rindu tak juga kunjung pergi. Apa kau tak bisa kembali ?

Aku tak pernah berhenti mencintai, aku hanya ingin kau lebih bahagia lagi.  Jika sekarang aku tak peduli, apa kamu akan tau arti sendiri ?Ah, sudahlah kamu tak akan merasakan sendiri . Karena setengah hatiku juga masih ragu untuk merelakanmu pergi dan untuk tidak mencintaimu lagi masih tetap jadi mistery. Hai pujaan hati, ternyata kamu masih punya tempat disini, didada sebelah kiri

No comments

Post a Comment

Wednesday, 27 June 2012

-No Mention-




”Puisilah yang paling sepi, menyimpan cinta yang tersembunyi. Akulah yang selalu menanti dan mengagumi”

"Aku pikir aku mampu mengejarmu, perlahan-lahan walau terlambat. Namun ternyata, aku tak dapat. Kamu sibuk mengejarnya dan aku pun tersesat." Tia Setiawati kurasa sudah cukup mewakili segala ironi yang kurasa.

Baiklah tidak mengapa.Silahkan berpetualang sepuasmu, sampai kamu lelah. Tapi ingatlah dan berpikirlah sekali lagi, saat kamu akan pergi. Mungkin nanti ketika kamu ingin kembali, aku sudah beranjak, dan cinta sudah tak berpijak. Karena sekali lagi aku tak mau sepi.


Aku pernah, mencintaimu berkali-kali, lagi dan lagi. Namun itu pun tak pernah cukup, bahkan sampai hari ini. Apa sekali lagi aku harus menanti ?Kusebut namamu berkali-kali, dalam doa, dalam lagu, dalam puisi-puisi. Ironi, rindu tak juga kunjung pergi. Apa kau tak bisa kembali ?

Aku tak pernah berhenti mencintai, aku hanya ingin kau lebih bahagia lagi.  Jika sekarang aku tak peduli, apa kamu akan tau arti sendiri ?Ah, sudahlah kamu tak akan merasakan sendiri . Karena setengah hatiku juga masih ragu untuk merelakanmu pergi dan untuk tidak mencintaimu lagi masih tetap jadi mistery. Hai pujaan hati, ternyata kamu masih punya tempat disini, didada sebelah kiri

No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall