Thursday, 9 August 2012

-When Summer's gone, there she comes, Autumn..-



"Menyebut namamu berkali-kali, mungkin tak mampu menghilangkan rindu dalam hati. Namun barangkali, ia membantu meringankan rasa sepi"

kita bertemu lagi sore itu, dimana  hangatnya kopi ada berada di sekitar kita, dan senyum serta gelak tawamu mengudara di atmosfir merah menyala ini.
kita bertemu lagi, setelah sekian lama hanya saling diam dan saling mengingat senyum di antara kita dalam hati.
aku ingat sering memperhatikanmu diam-diam, dan kemudian mata kita bertemu seketika itu aku langsung membuang pandanganku.
dan kini aku bisa memperhatikanmu dengan puas, tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
ah,  deciduous merah itu membuyarkan lamunanku tentang semua. ya, semua yg telah terjadi sebelum kita berada pada roman seperti ini. .

“sebentar lagi kau pergi..” kataku ditengah gelak tawa kita.
kamu hanya tersenyum, dan kemudian mengambil cangkir kopimu, menikmati isi cangkir kopi itu perlahan sembari memejamkan mata, dan kemudian menatapku.
“ya, aku akan pergi. salah satu di antara kita memang harus ada yang pergi.”
aku menatap keluar ruangan, sore ini matahari sangat hangat memancarkan sinarnya ke bumi sebelum nanti sang bulan mengganti sore menjadi malam yang dingin.
seperti pertemuan kita kali ini, hangat namun entah mengapa aku tahu setelah ini akan ada perasaan dingin yang tercipta di sini, di dalam hati.
kemudian kamu merubah posisi dudukmu, hingga sekarang kita duduk berdampingan.
“kita sudah bertemu, maka biarkan lah tiba waktunya kita untuk berpisah.”
hangat aku rasakan di sekujur tubuhku, ya kamu memelukku.
“sekarang, biarkan waktu ini membebaskan ruang yang selama ini tersekat. hanya waktu ini, sebelum nanti kita harus kembali pada kehidupan kita masing-masing.”
aku membalas pelukanmu, melupakan semua yang seharusnya aku ingat.
aku semakin membenamkan diri ke dalam tubuhmu, menghirup wangi tubuhmu agar aku tak lupa.
dan pelukan ini pun terasa semakin erat, aku pasti akan merindukan saat ini.
biarlah pelukan ini yang menjawab perasaan kita. dimana kita bertahan untuk tidak saling memiliki.
biar saja hanya perasaan kita yang di sakiti.
biar saja hanya kita yang tahu cerita ini.
“terimakasih…” ucapku



Tentang apa yang tak pernah ku terka dan yang tak mau ku rasa. Juga tentang satu nama yang akan berbekas. Ternyata memang inilah jalannya. Biarkan musim ini yang menjadi saksi tentang syahdunya salam perpisahan ...



No comments

Post a Comment

Thursday, 9 August 2012

-When Summer's gone, there she comes, Autumn..-



"Menyebut namamu berkali-kali, mungkin tak mampu menghilangkan rindu dalam hati. Namun barangkali, ia membantu meringankan rasa sepi"

kita bertemu lagi sore itu, dimana  hangatnya kopi ada berada di sekitar kita, dan senyum serta gelak tawamu mengudara di atmosfir merah menyala ini.
kita bertemu lagi, setelah sekian lama hanya saling diam dan saling mengingat senyum di antara kita dalam hati.
aku ingat sering memperhatikanmu diam-diam, dan kemudian mata kita bertemu seketika itu aku langsung membuang pandanganku.
dan kini aku bisa memperhatikanmu dengan puas, tanpa perlu sembunyi-sembunyi.
ah,  deciduous merah itu membuyarkan lamunanku tentang semua. ya, semua yg telah terjadi sebelum kita berada pada roman seperti ini. .

“sebentar lagi kau pergi..” kataku ditengah gelak tawa kita.
kamu hanya tersenyum, dan kemudian mengambil cangkir kopimu, menikmati isi cangkir kopi itu perlahan sembari memejamkan mata, dan kemudian menatapku.
“ya, aku akan pergi. salah satu di antara kita memang harus ada yang pergi.”
aku menatap keluar ruangan, sore ini matahari sangat hangat memancarkan sinarnya ke bumi sebelum nanti sang bulan mengganti sore menjadi malam yang dingin.
seperti pertemuan kita kali ini, hangat namun entah mengapa aku tahu setelah ini akan ada perasaan dingin yang tercipta di sini, di dalam hati.
kemudian kamu merubah posisi dudukmu, hingga sekarang kita duduk berdampingan.
“kita sudah bertemu, maka biarkan lah tiba waktunya kita untuk berpisah.”
hangat aku rasakan di sekujur tubuhku, ya kamu memelukku.
“sekarang, biarkan waktu ini membebaskan ruang yang selama ini tersekat. hanya waktu ini, sebelum nanti kita harus kembali pada kehidupan kita masing-masing.”
aku membalas pelukanmu, melupakan semua yang seharusnya aku ingat.
aku semakin membenamkan diri ke dalam tubuhmu, menghirup wangi tubuhmu agar aku tak lupa.
dan pelukan ini pun terasa semakin erat, aku pasti akan merindukan saat ini.
biarlah pelukan ini yang menjawab perasaan kita. dimana kita bertahan untuk tidak saling memiliki.
biar saja hanya perasaan kita yang di sakiti.
biar saja hanya kita yang tahu cerita ini.
“terimakasih…” ucapku



Tentang apa yang tak pernah ku terka dan yang tak mau ku rasa. Juga tentang satu nama yang akan berbekas. Ternyata memang inilah jalannya. Biarkan musim ini yang menjadi saksi tentang syahdunya salam perpisahan ...



No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall