Saturday, 2 February 2013

-spasi-


"Spasi (Filosofi Kopi - Dewi Lestari)
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring."


Yaa mungkin memang harus ada jeda dulu walau sebentar
supaya semuanya nggak datar
nggak standar.
Yaa mungkin memang harus ada spasi dulu
ibarat nulis, nggak mungkin kalau dari kata ke kata nggak dikasih jarak
sumpek
malah nggak ngerti tulisannya apaan…
Yaa cuma mungkin ngenesnya adalah karena yang mencet tombol spasinya bukan salah satu diantara kita
mencet spasinya terlalu keras sampe tombolnya rusak

Sekarang ini lagi proses buat beli keyboard baru atau perbaiki yang rusak.
Kalau tombol spasinya udah kembali seperti semula
Aku yakin kita bisa bentuk paragraf baru 
paragraf yang jarak spasinya harus kita tentukan sendiri.
yang tentunya lebih baik, easy reading
lebih E.Y.D dan S.P.O.K berkualitas
lalu jadi ‘tulisan’ best seller

No comments

Post a Comment

Saturday, 2 February 2013

-spasi-


"Spasi (Filosofi Kopi - Dewi Lestari)
Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna jika tidak ada jeda?
Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
Dan saling menyayang bila ada ruang??
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring."


Yaa mungkin memang harus ada jeda dulu walau sebentar
supaya semuanya nggak datar
nggak standar.
Yaa mungkin memang harus ada spasi dulu
ibarat nulis, nggak mungkin kalau dari kata ke kata nggak dikasih jarak
sumpek
malah nggak ngerti tulisannya apaan…
Yaa cuma mungkin ngenesnya adalah karena yang mencet tombol spasinya bukan salah satu diantara kita
mencet spasinya terlalu keras sampe tombolnya rusak

Sekarang ini lagi proses buat beli keyboard baru atau perbaiki yang rusak.
Kalau tombol spasinya udah kembali seperti semula
Aku yakin kita bisa bentuk paragraf baru 
paragraf yang jarak spasinya harus kita tentukan sendiri.
yang tentunya lebih baik, easy reading
lebih E.Y.D dan S.P.O.K berkualitas
lalu jadi ‘tulisan’ best seller

No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall