Wednesday, 31 July 2013

-cin(T)a (Cina Tuhan Annisa) -



Sulit bagi saya untuk menjadi objektif kala menonton film ini. Mungkin karena banyak unsur kedekatan dengan latar belakang permasalahan yang dibentuk. Mereka berhasil membuat sebuah film lugas yang jauh dari kategori takut-takut dan tanggung dalam menyajikan fakta dan realita.

Hal itu bisa dirasakan dari komponen percakapan antara Cina dan Anissa yang terbilang sedikit, namun mampu menyentuh topik masalahnya sampai ke titik terdalam.
Selain percakapan, banyak juga tampilan visual dan kalimat-kalimat yang mendukung, dan merangkul penonton untuk ikut merasakan, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua. untuk lebih menyadarkan, kita diajak mundur sembilan tahun kebelakang dimana pergolakan masyarakat di Indonesia diwarnai oleh terror-terror yang dilatarbelakangi oleh religi.
Untuk merengkuh keintiman dengan para pemain, kita disuguhi sebuah kolase adegan-adegan detail dan percakapan dengan porsi gambar extreme close up. hal ini dirasakan cukup berhasil, mengingat film ini mengangkat unsur kemanusiaan, dan dipadukan dengan kebutuhan dasar manusia untuk dicintai, terlepas dari apapun yang mengkotak-kotaki kehidupan mereka.
bekal untuk diimport mancanegara juga cukup, mengingat sebenarnya permasalahan ini tidak menjadi terlalu penting di dunia barat. namun kehadiran unsur etnis yang kental dan simbol-simbol kaya semiotik, mungkin cukup untuk membuat masyarakat duni menoleh dan duduk memperhatikan.
personifikasi terhadap Tuhan yang mereka lakukan menurut saya cukup berhasil. mengajak penonton sadar bahwa dizaman sekarang banyak yg beranggapan bahwa tidak selamanya Tuhan menjadi sesuatu yang kita taati dan takuti. bahwa sesekali kita bertanya dan mengeluh kepadanya. merupakan sebuah tindakan yang normal sebagai manusia biasa.
penempatan simbol yang kontinyu juga merupakan sebuah nilai plus. Anda akan menemukan beberapa simbol yang sama, membantu film ini untuk mempertegas benang merahnya. sebuah bantuan yang baik.
di tengah film, ada beberapa kali testimoni-testimoni yang - entah menjadi sedih atau senang saat menontonnya. itu bagian yang pahit menurut saya hehe.
dan juga dari sisi pengambilan gambar: Hampir 98% scene yang ada itu cuma menampilkan wajah Annisa dan Cina (pemeran utama). Gila! menurutku itu sih keren aja, dimana kalian ga liat muka sesiapapun di film itu. yang ada kalian cuma liat orang dari leher ke bawah aja, ga di kasih liat itu badan punya wajah seperti apa. Terus ditambah mereka yang imut banget memainkan peran pake jari ituloh. Jadi jari mereka digambar-gambar sesuai dengan ekspresi yang dirasakan dan itu UNIK. 

namun yang menjadi kekurangan  di film ini ada di unsur audio. dengungan yang terjadi saat percakapan berlangsung, membuat saya nengulang reka adegan atau cari kata katanya digoogle. ada beberapa percakapan yang tidak jelas. membuat alur cerita agak bergoyang sedikit. tapi overall semuanya tetap menyentuh :)
dan film ini semakin kelihatan Intelektualitas, Spiritualitas dan Integritasnya saat di ending mereka memilih untuk tidak memiliki satu sama lain. Kuat pendiriaannya
sy nonton 3x dan nangis, padahal sy jarang suka film lo seriuuus ;)


ini beberapa quotesnyaa

Cina : “Kau cantik, aku ganteng. Kau yatim, aku piatu. Kau bego, aku pinter”
Annisa : “Lo Kristen, gue Islam”
Cina : “Exactly! Ntar kita bisa di display tahun ini, jadi simbol kerukunan umat beragama. Kau kan belom pernah main beda agama. Atau kau pindah Kristen aja, Nis”
Annisa : “Yakin lo masih mau sama gue? Tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi elo ntar
—  Cin(T)a
Anisa: Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda kalo Allah cuma mau disembah kita dengan satu cara?
Cina: Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu… :)
Kau disubsidi di sekolah buat bantu pemerintah mikir, kalau kau bisanya cuma nyalah-nyalahin pemerintah buat apa kau diluluskan, republik ini udah kebanyakan sarjana nyingir…
The Thinking is Just Too Much
—  Cina - Cin(t)a
dll~
o ya download soundtracknya juga ya kereen homogenic tak terlupakan sm senja berganti :))

No comments

Post a Comment

Wednesday, 31 July 2013

-cin(T)a (Cina Tuhan Annisa) -



Sulit bagi saya untuk menjadi objektif kala menonton film ini. Mungkin karena banyak unsur kedekatan dengan latar belakang permasalahan yang dibentuk. Mereka berhasil membuat sebuah film lugas yang jauh dari kategori takut-takut dan tanggung dalam menyajikan fakta dan realita.

Hal itu bisa dirasakan dari komponen percakapan antara Cina dan Anissa yang terbilang sedikit, namun mampu menyentuh topik masalahnya sampai ke titik terdalam.
Selain percakapan, banyak juga tampilan visual dan kalimat-kalimat yang mendukung, dan merangkul penonton untuk ikut merasakan, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka berdua. untuk lebih menyadarkan, kita diajak mundur sembilan tahun kebelakang dimana pergolakan masyarakat di Indonesia diwarnai oleh terror-terror yang dilatarbelakangi oleh religi.
Untuk merengkuh keintiman dengan para pemain, kita disuguhi sebuah kolase adegan-adegan detail dan percakapan dengan porsi gambar extreme close up. hal ini dirasakan cukup berhasil, mengingat film ini mengangkat unsur kemanusiaan, dan dipadukan dengan kebutuhan dasar manusia untuk dicintai, terlepas dari apapun yang mengkotak-kotaki kehidupan mereka.
bekal untuk diimport mancanegara juga cukup, mengingat sebenarnya permasalahan ini tidak menjadi terlalu penting di dunia barat. namun kehadiran unsur etnis yang kental dan simbol-simbol kaya semiotik, mungkin cukup untuk membuat masyarakat duni menoleh dan duduk memperhatikan.
personifikasi terhadap Tuhan yang mereka lakukan menurut saya cukup berhasil. mengajak penonton sadar bahwa dizaman sekarang banyak yg beranggapan bahwa tidak selamanya Tuhan menjadi sesuatu yang kita taati dan takuti. bahwa sesekali kita bertanya dan mengeluh kepadanya. merupakan sebuah tindakan yang normal sebagai manusia biasa.
penempatan simbol yang kontinyu juga merupakan sebuah nilai plus. Anda akan menemukan beberapa simbol yang sama, membantu film ini untuk mempertegas benang merahnya. sebuah bantuan yang baik.
di tengah film, ada beberapa kali testimoni-testimoni yang - entah menjadi sedih atau senang saat menontonnya. itu bagian yang pahit menurut saya hehe.
dan juga dari sisi pengambilan gambar: Hampir 98% scene yang ada itu cuma menampilkan wajah Annisa dan Cina (pemeran utama). Gila! menurutku itu sih keren aja, dimana kalian ga liat muka sesiapapun di film itu. yang ada kalian cuma liat orang dari leher ke bawah aja, ga di kasih liat itu badan punya wajah seperti apa. Terus ditambah mereka yang imut banget memainkan peran pake jari ituloh. Jadi jari mereka digambar-gambar sesuai dengan ekspresi yang dirasakan dan itu UNIK. 

namun yang menjadi kekurangan  di film ini ada di unsur audio. dengungan yang terjadi saat percakapan berlangsung, membuat saya nengulang reka adegan atau cari kata katanya digoogle. ada beberapa percakapan yang tidak jelas. membuat alur cerita agak bergoyang sedikit. tapi overall semuanya tetap menyentuh :)
dan film ini semakin kelihatan Intelektualitas, Spiritualitas dan Integritasnya saat di ending mereka memilih untuk tidak memiliki satu sama lain. Kuat pendiriaannya
sy nonton 3x dan nangis, padahal sy jarang suka film lo seriuuus ;)


ini beberapa quotesnyaa

Cina : “Kau cantik, aku ganteng. Kau yatim, aku piatu. Kau bego, aku pinter”
Annisa : “Lo Kristen, gue Islam”
Cina : “Exactly! Ntar kita bisa di display tahun ini, jadi simbol kerukunan umat beragama. Kau kan belom pernah main beda agama. Atau kau pindah Kristen aja, Nis”
Annisa : “Yakin lo masih mau sama gue? Tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi elo ntar
—  Cin(T)a
Anisa: Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda kalo Allah cuma mau disembah kita dengan satu cara?
Cina: Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu… :)
Kau disubsidi di sekolah buat bantu pemerintah mikir, kalau kau bisanya cuma nyalah-nyalahin pemerintah buat apa kau diluluskan, republik ini udah kebanyakan sarjana nyingir…
The Thinking is Just Too Much
—  Cina - Cin(t)a
dll~
o ya download soundtracknya juga ya kereen homogenic tak terlupakan sm senja berganti :))

No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall