Thursday, 30 January 2014

Rasanya sudah lama , tidak menulis kedamaian
tambah umur, tambah tahun, seperti jauh dari syukur

ah Tuhan ampuni hamba-Mu ini ya, yang tulisannya sedih melulu
padahal masih bisa makan nasi bubur, porsi penuh, tambah es jus, menu penutup? puding keju!
lama-lama bosan juga baca bacaan yang menggerutu. Malu sama umur?yuhuu..*

revolusi 2014





Sunday, 12 January 2014

-salam cinta dari kami-




"Bapak penjual tisu distasiun Universitas Indonesia. "
Aku bukan calon pemimpin yang baik. Bahkan tak pernah ingin memimpin. Hanya seorang wanita yang mempunya hati disini didada sebelah kiri. Manakala ia beraksi ketegasan memang tak berlaku disini. Hanya kepekaan yang kuandalkan untuk tau bagaimana caranya bergerak. Biar kata dibilang lugu, asal dosa tak ikut membelenggu. Dan selanjutnya, kupercaya semua akan baik baik saja.

Aku tak secerdas tokoh tokoh yang dielukan. Karna manakala ku mengerjakan soal maka hari itu juga ilmuku selesai tanpa diulur. Tapi, belajar tentang kehidupan akan terus kupikirkan. Bagaimana tidak , seorang tua kurus, lusuh yang menjual tisunya bisa begitu menyerupai ayahku. Siapa yg tega membeli tisu dari ayahnya sendiri. Suatu hari nanti dan bukan tidak mungkin. 

Tungguu, ayahku ???Tidak, itu tidak  akan! Dan seharusnya seorang bapak ini juga tidak..          
Terlihat bodoh tanpa kacamata. Buta melihat disekeliling jalan. Tapi untuk melihat orang-orang yang kurang beruntung sepertinya aku pun tak  perlu memincingkan mata. Entahlah mata apa yang mereka gunakan sampai mereka tak melihat yang seperti ini masih banyak berserakan. Katanya, demokrasi yang merakyat ? Ah, sudahlah bisaku hanya mencaci saja :(

Syukur-syukur saja jadi rakyat biasa. Membaur ramah penuh kedamaian. Sesekali sedih dirasakan bersama. Setidaknya saat bahagia dan sedih ada yang bisa kubagikan mengenainya. Daripada bahagia memperdebatkan masalah yang selalu sama dan selalu salah. Seperti keledai bodoh yang saling membantah...tak banyak menyelesaikan masalah

Adakah yang percaya, jika disebuah Negara ada yang rakyat jelatanya  jauh lebih kaya ketimbang pengayomnya ?Pengayom?Oke ini kesalahan. Entahlah siapa namanya. Saya selalu kesusahan untuk mencari nama yang pantas untuk mereka.  

Balik lagi. Rakyat kita itu terlalu kaya (juga) terlalu ikhlas berbagi untuk petingginya. Jika kalian masih bingung kemana harus mencari ilmu ikhlas itu. Mari berkunjunglah ke Negeri yang sarat akan masalah ini. Ilmu ikhlas , sabar, dan memaafkan akan banyak kalian temukan disini. Kalian akan menemukan kehidupan yang kuceritakan itu. Rakyatnya yang sopan, sabar, dan pekerja keras itu akan kalian jumpai tergelatak disepanjang jalan, disetiap sudut kota. Kenapa ?Karena hartanya terjamah oleh penguasanya.

Salam cinta dari kami.

-butuh huruf vokal!-





Betapa runyam rasanya , bahkan kata kata saja tak dapat tersusun dengan rapi bagaikan konsonan bertemu konsonan tanpa bertemu vokal.

Satu persatu teman datang dan pergi bercerita panjang panjang tertawa lebar lebar .. mereka bilang tertawa bersama adalah garis terdekat penghubung kalimat manusia, tetapi tak ada yang mengerti aku sedang kehilangan..

Apa ada yang salah dengan kata kata ? Atau aku sendiri yang tiba tiba tak mengerti kalimat,  tiba tiba buta huruf,  tiba tiba terbata bata tak bisa mengeja…

Betapa kalimat tak tersusun baik tanpa vokal , betapa seindah apapun huruf tanpa vokal hanyalah susunan huruf tanpa arti..
aku kehilangan huruf vokal ..

Thursday, 30 January 2014

Rasanya sudah lama , tidak menulis kedamaian
tambah umur, tambah tahun, seperti jauh dari syukur

ah Tuhan ampuni hamba-Mu ini ya, yang tulisannya sedih melulu
padahal masih bisa makan nasi bubur, porsi penuh, tambah es jus, menu penutup? puding keju!
lama-lama bosan juga baca bacaan yang menggerutu. Malu sama umur?yuhuu..*

revolusi 2014





Sunday, 12 January 2014

-salam cinta dari kami-




"Bapak penjual tisu distasiun Universitas Indonesia. "
Aku bukan calon pemimpin yang baik. Bahkan tak pernah ingin memimpin. Hanya seorang wanita yang mempunya hati disini didada sebelah kiri. Manakala ia beraksi ketegasan memang tak berlaku disini. Hanya kepekaan yang kuandalkan untuk tau bagaimana caranya bergerak. Biar kata dibilang lugu, asal dosa tak ikut membelenggu. Dan selanjutnya, kupercaya semua akan baik baik saja.

Aku tak secerdas tokoh tokoh yang dielukan. Karna manakala ku mengerjakan soal maka hari itu juga ilmuku selesai tanpa diulur. Tapi, belajar tentang kehidupan akan terus kupikirkan. Bagaimana tidak , seorang tua kurus, lusuh yang menjual tisunya bisa begitu menyerupai ayahku. Siapa yg tega membeli tisu dari ayahnya sendiri. Suatu hari nanti dan bukan tidak mungkin. 

Tungguu, ayahku ???Tidak, itu tidak  akan! Dan seharusnya seorang bapak ini juga tidak..          
Terlihat bodoh tanpa kacamata. Buta melihat disekeliling jalan. Tapi untuk melihat orang-orang yang kurang beruntung sepertinya aku pun tak  perlu memincingkan mata. Entahlah mata apa yang mereka gunakan sampai mereka tak melihat yang seperti ini masih banyak berserakan. Katanya, demokrasi yang merakyat ? Ah, sudahlah bisaku hanya mencaci saja :(

Syukur-syukur saja jadi rakyat biasa. Membaur ramah penuh kedamaian. Sesekali sedih dirasakan bersama. Setidaknya saat bahagia dan sedih ada yang bisa kubagikan mengenainya. Daripada bahagia memperdebatkan masalah yang selalu sama dan selalu salah. Seperti keledai bodoh yang saling membantah...tak banyak menyelesaikan masalah

Adakah yang percaya, jika disebuah Negara ada yang rakyat jelatanya  jauh lebih kaya ketimbang pengayomnya ?Pengayom?Oke ini kesalahan. Entahlah siapa namanya. Saya selalu kesusahan untuk mencari nama yang pantas untuk mereka.  

Balik lagi. Rakyat kita itu terlalu kaya (juga) terlalu ikhlas berbagi untuk petingginya. Jika kalian masih bingung kemana harus mencari ilmu ikhlas itu. Mari berkunjunglah ke Negeri yang sarat akan masalah ini. Ilmu ikhlas , sabar, dan memaafkan akan banyak kalian temukan disini. Kalian akan menemukan kehidupan yang kuceritakan itu. Rakyatnya yang sopan, sabar, dan pekerja keras itu akan kalian jumpai tergelatak disepanjang jalan, disetiap sudut kota. Kenapa ?Karena hartanya terjamah oleh penguasanya.

Salam cinta dari kami.

-butuh huruf vokal!-





Betapa runyam rasanya , bahkan kata kata saja tak dapat tersusun dengan rapi bagaikan konsonan bertemu konsonan tanpa bertemu vokal.

Satu persatu teman datang dan pergi bercerita panjang panjang tertawa lebar lebar .. mereka bilang tertawa bersama adalah garis terdekat penghubung kalimat manusia, tetapi tak ada yang mengerti aku sedang kehilangan..

Apa ada yang salah dengan kata kata ? Atau aku sendiri yang tiba tiba tak mengerti kalimat,  tiba tiba buta huruf,  tiba tiba terbata bata tak bisa mengeja…

Betapa kalimat tak tersusun baik tanpa vokal , betapa seindah apapun huruf tanpa vokal hanyalah susunan huruf tanpa arti..
aku kehilangan huruf vokal ..
© 29 September
Maira Gall