Friday, 17 July 2015

Ajeng Ziana : Pemeran Utama Merangkap Sutradara



Beberapa Film mahakarya Indonesia tengah tayang di bioskop. Beberapa karya film para sineas muda  pun tidak mau kalah unjuk kebolehan. Begitu pula demgan para sineas muda Film Diploma IPB. Beberapa karya film hasil tangan mereka diakui mampu mengharumkan nama Institut Pertanian Bogor. Salah satunya adalah Ajeng Ziana Komunikasi 50. Mahasiswi kelahiran Jakarta 21 Agustus 1995 ini belajar banyak mengenai dunia perfilman melalui Club Film di Diploma IPB yaitu Agrimovie. Pengalaman belajar mulai dari pembuatan skenario sampai final editing  benar-benar ia tekuni. Maka tidak heran dalam event Pekan Seni Budaya 2014 kali ini, khususnya lomba film dokumenter  ia berhasil merebut juara pertama dari 11 peserta lainnya.

Film dokumenter yang berjudul Rimbawan Kecil berhasil merebut hati para juri dengan perolehan score 510. Menurut Zia proses pembuatan film Rimbawan Kecil dari skenario hingga final editing tergolong sangat cepat. Namun, ia sangat optimis karena tim yang bekerja sama dengannya mampu bekerja secara optimal. Bahkan tak tanggung-tanggung, Zia selaku sutradara langsung terjun menjadi pemeran utama dalam film dokumenternya. Bukan karena ia tidak mempercayakan peran ini kepada orang lain, tetapi dalam waktu yang singkat ia tidak ingin terlalu mengambil resiko. Alhasil, Zia sebagai sutradara lah yang memainkan peran utama dalam film Rimbawan kecil.

Menjadi sutradara sekaligus pemeran utama, bukan berarti Zia bermodalkan nekat belaka. Namun, dibalik kerja kerasnya ini ia banyak mendapatkan dukungan dari beberapa alumni, anggota dan senior agrimovie. “Para senior Agrimovie yang dulunya pernah menjadi seorang sutradara ikut memberikan dukungan, bahkan disela- sela pembuatan film, seperti ka Alfian Nur Hafiidz ( ketua agrimovie) pun sering memberikan saran-saran bagaimana seharusnya saya bersikap sebagai sutradara dan bagaimana cara mengemas film yang baik”. Selain didukung oleh para senior agrimovie, zia juga bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan IPB tepatnya basecamp kerinci dan sekolah rimbawan kecil. Basecamp kerinci dan rimbawan kecil itu sendiri merupakan salah satu latar inti dan inspirasi ide cerita dalam film dokumenter :rimbawan Kecil". Film ini bercerita tentang sebuah sekolah yang didirikan oleh beberapa anak Fahutan (Fakultas Kehutanan) IPB. Sekolah yang dibangun untuk tujuan mengajarkan anak anak tentang konservasi alam. Disini anak anak yang tidak bersekolah diajarkan banyak hal, tidak hanya tentang ilmu akademik namun juga diasah kreativitasnya dengan bersentuhan langsung dengan alam seperti membuat permainan traditional. Hal unik inilah yang diangkat Zia sebagai cerita dalam Film Dokumenter.

Baik menjadi sutradara maupun pemeran utama merupakan impian Ajeng Ziana sejak kecil. Dalam dunia perfilman ia sangat mengidolakan sosok Acha Septriasa. Sosok Acha dinilai Zia sebagai sosok entertainer profesional yang sangat handal dalam memainkan peran. Ia banyak belajar dari Acha Septriasa. Bahkan ia mencontoh cara Acha dalam memerankan karakter yaitu dengan mempelajari orang-orang yang pernah mengalami cerita dalam film yang akan dimainkannya. Tak terkecuali juga pada  event film dokumenter kali ini, Zia juga terinspirasi dari seorang Acha dalam film Omnibus. Dimana dalam film Omnibus, Acha juga merangkap sebagai sutradara dan pemeran utama.   “ Jika Tuhan berkehendak, semoga keberuntungan saya bisa mengikuti jejak Acha  Septriasa, menyabet beberapa gelar juara tidak hanya dalam kejuaraan kampus, menjadi artis dan sutradara yang cantik dan handal hahaha” kata Zia.

Dengan adanya segudang prestasi dan keinginan untuk bisa lebih berkarya dari ini, Zia pun mempunyai beberapa harapan. Selain club Agrimovie semakin menambah banyak anggota sehingga karya-karya film yang asik dan menarik tidak pernah mati. Zia juga berharap IPB mendukung setiap pergerakan para sineas film Diploma IPB. Mengapresiasi karya sineas film Diploma IPB sebagai bagian dari IPB itu sendiri. Apreasiasi tersebut bisa berupa pemberian dana fasilitas penunjang latihan mereka untuk terus mengembangkan karya. “Toh banyak sineas film dari Diploma yang sudah mengharumkan nama Diploma IPB diluar sana, harusnya ini bisa menjadi perhatian lebih juga untuk diploma IPB, siapa tau nanti kita bisa membuat film Pertanian yang menggemparkan dunia haha” ujar Zia dengan penuh semangat.










Saturday, 4 July 2015

yang sempat terpendam ~

Beriring bukan digiring. Kasih itu dituntunnya dengan naluri. Naluri bekerja samanya dengan hati. Yang perlu kita sama-sama tahu.  Hati setiap orang tidak semuanya  tahu menahu . Kaupun aku bukan Tuhan yang selalu tahu.

Mengenai kenyamanan hati, naluri akan mengikuti. Dan tanpa digiring, kita akan beriring. Jika dan hanya jika hanya kau sendiri yang berjuang, tidak ada aku baik kita yang masih disini. Masing-masing pasti akan pergi menyelamatkan diri. Kita hanya makhluk hidup yang juga punya tujuan pasti. Masing-masing pasti akan menggunakan sebagian/seluruhnya/atau sedikit tapi pasti akan menggunakan rasionalitasnya. Menyelamatkan diri, mempertahankan hidup. Ya, kita yang sedang mengikuti  seleksi alam.

Bukan aku menggurui, bukan aku yang sok paling mengetahui. Memang benar ada aku disalah satu penyebabnya. Oh maaf, bukan salah satu. Mungkin sebagian besar diantaranya. Mungkin salah terbesar diantaranya karena aku lebih memilih acuh. Yakin asa itu pasti ada,tapi tak kunjung bersua. Lalu berlahan lemah dan meluap. Jika merasa hanya satu yang bertahan dan memperjuangkan. Coba saja tengok beberapa bulan yang lalu. Tak terhitung mili, bola sipit ini mengalirkan putus asa. Tapi tidak ada yang tahu, seseorang yang selalu membanding bandingkan dengan masa lalu mencoba membuka harapan baru terus dan terus.Oh, mungkin lebih baik jika kita sama-sama mengetahui setiap masing-masing. Bukan hanya aku pun kamu, tapi kita. Mari kita sama-sama mengingat peribahasa yang satu ini : ada api ada asap,ada sebab pasti ada akibat. Semua tingkah laku ada unsur sebabnya.

Peduli bukan berarti menggiring. Membebaskan bukan berarti tak peduli. Aku, anak kecil ?Mungkin, tp bukan berarti  aku sedikit berpikir. Kadang lakuku hanya memenuhi subjek yang kutuju. Atau aku gaguk tidak tahu bagaimana aku menyamakan posisi.  
Marah salah satu cara dari sekian banyaknya pilihan yang lebih bermakna. Hanya saja aku tidak ingin hati bekerja sendiri, kubiarkan ia melepas gerah. Biar saja... dan baik itu salah
Jika saja, aku tak berharap lebih pada kemungkinan ini. Aku sudah terlampau jauh mencari yang sejati. Dari sekian ketidakcocokan aku masih ingin berprasangka ini sudah yang terbaik. Jika sudah terlampau saling salah berpersepsi. Mau kita duduk ngopi, kita jelaskan masing-masing...


Dalam suatu kurva, berada pada titik nol adalah kritis. Setelah ia kembali naik terus dan terus. Jika tak diperbaiki dua kemungkinan. Keajaiban atau kepastian.


Dan kalian tahu ?
i found the answers. aku berada pada posisi nyamanku
dan BERSAMA KALIAN
is it a miracle guys ? :)

Friday, 17 July 2015

Ajeng Ziana : Pemeran Utama Merangkap Sutradara



Beberapa Film mahakarya Indonesia tengah tayang di bioskop. Beberapa karya film para sineas muda  pun tidak mau kalah unjuk kebolehan. Begitu pula demgan para sineas muda Film Diploma IPB. Beberapa karya film hasil tangan mereka diakui mampu mengharumkan nama Institut Pertanian Bogor. Salah satunya adalah Ajeng Ziana Komunikasi 50. Mahasiswi kelahiran Jakarta 21 Agustus 1995 ini belajar banyak mengenai dunia perfilman melalui Club Film di Diploma IPB yaitu Agrimovie. Pengalaman belajar mulai dari pembuatan skenario sampai final editing  benar-benar ia tekuni. Maka tidak heran dalam event Pekan Seni Budaya 2014 kali ini, khususnya lomba film dokumenter  ia berhasil merebut juara pertama dari 11 peserta lainnya.

Film dokumenter yang berjudul Rimbawan Kecil berhasil merebut hati para juri dengan perolehan score 510. Menurut Zia proses pembuatan film Rimbawan Kecil dari skenario hingga final editing tergolong sangat cepat. Namun, ia sangat optimis karena tim yang bekerja sama dengannya mampu bekerja secara optimal. Bahkan tak tanggung-tanggung, Zia selaku sutradara langsung terjun menjadi pemeran utama dalam film dokumenternya. Bukan karena ia tidak mempercayakan peran ini kepada orang lain, tetapi dalam waktu yang singkat ia tidak ingin terlalu mengambil resiko. Alhasil, Zia sebagai sutradara lah yang memainkan peran utama dalam film Rimbawan kecil.

Menjadi sutradara sekaligus pemeran utama, bukan berarti Zia bermodalkan nekat belaka. Namun, dibalik kerja kerasnya ini ia banyak mendapatkan dukungan dari beberapa alumni, anggota dan senior agrimovie. “Para senior Agrimovie yang dulunya pernah menjadi seorang sutradara ikut memberikan dukungan, bahkan disela- sela pembuatan film, seperti ka Alfian Nur Hafiidz ( ketua agrimovie) pun sering memberikan saran-saran bagaimana seharusnya saya bersikap sebagai sutradara dan bagaimana cara mengemas film yang baik”. Selain didukung oleh para senior agrimovie, zia juga bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan IPB tepatnya basecamp kerinci dan sekolah rimbawan kecil. Basecamp kerinci dan rimbawan kecil itu sendiri merupakan salah satu latar inti dan inspirasi ide cerita dalam film dokumenter :rimbawan Kecil". Film ini bercerita tentang sebuah sekolah yang didirikan oleh beberapa anak Fahutan (Fakultas Kehutanan) IPB. Sekolah yang dibangun untuk tujuan mengajarkan anak anak tentang konservasi alam. Disini anak anak yang tidak bersekolah diajarkan banyak hal, tidak hanya tentang ilmu akademik namun juga diasah kreativitasnya dengan bersentuhan langsung dengan alam seperti membuat permainan traditional. Hal unik inilah yang diangkat Zia sebagai cerita dalam Film Dokumenter.

Baik menjadi sutradara maupun pemeran utama merupakan impian Ajeng Ziana sejak kecil. Dalam dunia perfilman ia sangat mengidolakan sosok Acha Septriasa. Sosok Acha dinilai Zia sebagai sosok entertainer profesional yang sangat handal dalam memainkan peran. Ia banyak belajar dari Acha Septriasa. Bahkan ia mencontoh cara Acha dalam memerankan karakter yaitu dengan mempelajari orang-orang yang pernah mengalami cerita dalam film yang akan dimainkannya. Tak terkecuali juga pada  event film dokumenter kali ini, Zia juga terinspirasi dari seorang Acha dalam film Omnibus. Dimana dalam film Omnibus, Acha juga merangkap sebagai sutradara dan pemeran utama.   “ Jika Tuhan berkehendak, semoga keberuntungan saya bisa mengikuti jejak Acha  Septriasa, menyabet beberapa gelar juara tidak hanya dalam kejuaraan kampus, menjadi artis dan sutradara yang cantik dan handal hahaha” kata Zia.

Dengan adanya segudang prestasi dan keinginan untuk bisa lebih berkarya dari ini, Zia pun mempunyai beberapa harapan. Selain club Agrimovie semakin menambah banyak anggota sehingga karya-karya film yang asik dan menarik tidak pernah mati. Zia juga berharap IPB mendukung setiap pergerakan para sineas film Diploma IPB. Mengapresiasi karya sineas film Diploma IPB sebagai bagian dari IPB itu sendiri. Apreasiasi tersebut bisa berupa pemberian dana fasilitas penunjang latihan mereka untuk terus mengembangkan karya. “Toh banyak sineas film dari Diploma yang sudah mengharumkan nama Diploma IPB diluar sana, harusnya ini bisa menjadi perhatian lebih juga untuk diploma IPB, siapa tau nanti kita bisa membuat film Pertanian yang menggemparkan dunia haha” ujar Zia dengan penuh semangat.










Saturday, 4 July 2015

yang sempat terpendam ~

Beriring bukan digiring. Kasih itu dituntunnya dengan naluri. Naluri bekerja samanya dengan hati. Yang perlu kita sama-sama tahu.  Hati setiap orang tidak semuanya  tahu menahu . Kaupun aku bukan Tuhan yang selalu tahu.

Mengenai kenyamanan hati, naluri akan mengikuti. Dan tanpa digiring, kita akan beriring. Jika dan hanya jika hanya kau sendiri yang berjuang, tidak ada aku baik kita yang masih disini. Masing-masing pasti akan pergi menyelamatkan diri. Kita hanya makhluk hidup yang juga punya tujuan pasti. Masing-masing pasti akan menggunakan sebagian/seluruhnya/atau sedikit tapi pasti akan menggunakan rasionalitasnya. Menyelamatkan diri, mempertahankan hidup. Ya, kita yang sedang mengikuti  seleksi alam.

Bukan aku menggurui, bukan aku yang sok paling mengetahui. Memang benar ada aku disalah satu penyebabnya. Oh maaf, bukan salah satu. Mungkin sebagian besar diantaranya. Mungkin salah terbesar diantaranya karena aku lebih memilih acuh. Yakin asa itu pasti ada,tapi tak kunjung bersua. Lalu berlahan lemah dan meluap. Jika merasa hanya satu yang bertahan dan memperjuangkan. Coba saja tengok beberapa bulan yang lalu. Tak terhitung mili, bola sipit ini mengalirkan putus asa. Tapi tidak ada yang tahu, seseorang yang selalu membanding bandingkan dengan masa lalu mencoba membuka harapan baru terus dan terus.Oh, mungkin lebih baik jika kita sama-sama mengetahui setiap masing-masing. Bukan hanya aku pun kamu, tapi kita. Mari kita sama-sama mengingat peribahasa yang satu ini : ada api ada asap,ada sebab pasti ada akibat. Semua tingkah laku ada unsur sebabnya.

Peduli bukan berarti menggiring. Membebaskan bukan berarti tak peduli. Aku, anak kecil ?Mungkin, tp bukan berarti  aku sedikit berpikir. Kadang lakuku hanya memenuhi subjek yang kutuju. Atau aku gaguk tidak tahu bagaimana aku menyamakan posisi.  
Marah salah satu cara dari sekian banyaknya pilihan yang lebih bermakna. Hanya saja aku tidak ingin hati bekerja sendiri, kubiarkan ia melepas gerah. Biar saja... dan baik itu salah
Jika saja, aku tak berharap lebih pada kemungkinan ini. Aku sudah terlampau jauh mencari yang sejati. Dari sekian ketidakcocokan aku masih ingin berprasangka ini sudah yang terbaik. Jika sudah terlampau saling salah berpersepsi. Mau kita duduk ngopi, kita jelaskan masing-masing...


Dalam suatu kurva, berada pada titik nol adalah kritis. Setelah ia kembali naik terus dan terus. Jika tak diperbaiki dua kemungkinan. Keajaiban atau kepastian.


Dan kalian tahu ?
i found the answers. aku berada pada posisi nyamanku
dan BERSAMA KALIAN
is it a miracle guys ? :)
© 29 September
Maira Gall