Monday, 7 April 2014



Satu per satu datang memberikan tiap-tiap huruf  pada kertas kosong. Waktu persatuan sekon bergulir merangkai huruf-huruf. Memisahkan antara konsonan dan vocal, mana yang dibuang dan mana yang tetap ditempat untuk memberikan sebuah makna. Selanjutnya mereka bekerja dalam satu tempat menuliskan kalimat yang tak singkat.

Kamupun bisa. Menulis kisah ajaib. Serupa hidup keluar sangkar, bebas terbang kemanapun yang kamu suka. Bertemu benda benda langit, berkawan dengan awan, bersambut hamparan biru, sesekali bergoyang bersama rerumputan, bercanda dan mematuk diantara bijinya.

Hidup itu luas, fasilitas sempurna untuk melakukan apa yang kamu bisa. Tak terbatas bagi kamu yang mengepak sayap. Tak berujung bagi kamu yang menangkis lelah. Karena kamu itu tak terbatas . Semesta yang membentang. Jagad yang tak terguncang

Mengenai takdir yang singkat, berceritalah tentang hidup yang mengagumkan.



berpetualanglah sejauh mata memandang
Mengayuhlah sejauh lautan terbentang
Bergurulah sejauh alam terkembang

“Man saara ala darbi washala”
 Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan



Titik bosan ter’berat’ adalah mengambil  titik zona ter’nyaman’
Kalo saja berani  ambil selangkah tapak jalan  diluar itu
Petulangan ini indah
Bisa benar benar melihat
Bagaimana semesta membentang luas, tanpa batas

Sayang, hati belum sekeras membulat tekat
Untuk melihat pahatan ajaib milik Tuhan ...
Pahatan yang sangat besar dan megah

Hanya terus menyegerakan waktuku
Melatih diri, membentangkan sayap,
Mengeraskan tekat, menegakkan badan
Suatu saat terbang bebas, menjadi rutinitas


"Mengambil tapak jalan petualangan tanpa batas, tekat Tuhan sangat besar untuk menyegerakan waktuku membentangkan sayap dan tekat lalu terbang menjadi rutinitas" aamiin





Jangan sesekali menampakan lelahmu itu
Hanya aku yang boleh tau
Seegois apapun aku
Hanya sebuah keinginan baku
Untuk menjadi orang yang paling mengerti, kamu...


Tuesday, 1 April 2014




jalan misisipi dengan lampu temaram ,
bambu-bambu meliuk ,
disebuah desa sudut kota hujan
lodaya akan menjadi cerita
gelapnya rantauan sepanjang jalan
girang terang makin benderang
mengingat aku kamu

pernah berjalan beriringan

Monday, 7 April 2014



Satu per satu datang memberikan tiap-tiap huruf  pada kertas kosong. Waktu persatuan sekon bergulir merangkai huruf-huruf. Memisahkan antara konsonan dan vocal, mana yang dibuang dan mana yang tetap ditempat untuk memberikan sebuah makna. Selanjutnya mereka bekerja dalam satu tempat menuliskan kalimat yang tak singkat.

Kamupun bisa. Menulis kisah ajaib. Serupa hidup keluar sangkar, bebas terbang kemanapun yang kamu suka. Bertemu benda benda langit, berkawan dengan awan, bersambut hamparan biru, sesekali bergoyang bersama rerumputan, bercanda dan mematuk diantara bijinya.

Hidup itu luas, fasilitas sempurna untuk melakukan apa yang kamu bisa. Tak terbatas bagi kamu yang mengepak sayap. Tak berujung bagi kamu yang menangkis lelah. Karena kamu itu tak terbatas . Semesta yang membentang. Jagad yang tak terguncang

Mengenai takdir yang singkat, berceritalah tentang hidup yang mengagumkan.



berpetualanglah sejauh mata memandang
Mengayuhlah sejauh lautan terbentang
Bergurulah sejauh alam terkembang

“Man saara ala darbi washala”
 Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai ke tujuan


Titik bosan ter’berat’ adalah mengambil  titik zona ter’nyaman’
Kalo saja berani  ambil selangkah tapak jalan  diluar itu
Petulangan ini indah
Bisa benar benar melihat
Bagaimana semesta membentang luas, tanpa batas

Sayang, hati belum sekeras membulat tekat
Untuk melihat pahatan ajaib milik Tuhan ...
Pahatan yang sangat besar dan megah

Hanya terus menyegerakan waktuku
Melatih diri, membentangkan sayap,
Mengeraskan tekat, menegakkan badan
Suatu saat terbang bebas, menjadi rutinitas


"Mengambil tapak jalan petualangan tanpa batas, tekat Tuhan sangat besar untuk menyegerakan waktuku membentangkan sayap dan tekat lalu terbang menjadi rutinitas" aamiin





Jangan sesekali menampakan lelahmu itu
Hanya aku yang boleh tau
Seegois apapun aku
Hanya sebuah keinginan baku
Untuk menjadi orang yang paling mengerti, kamu...


Tuesday, 1 April 2014




jalan misisipi dengan lampu temaram ,
bambu-bambu meliuk ,
disebuah desa sudut kota hujan
lodaya akan menjadi cerita
gelapnya rantauan sepanjang jalan
girang terang makin benderang
mengingat aku kamu

pernah berjalan beriringan
© 29 September
Maira Gall