Wednesday, 31 December 2014

“Terkadang cinta membuat gegabah. Lupa, jika untuk mencapai tujuan kau harus tahu arah. Hingga pada akhirnya tersesat dalam amarah”

Setiap orang punya cara sendiri untuk melewati masanya. Ya, dengan berbagai macam cerita. Dengan berbagai rasa tentunya. Dimana dulu kita sebut itu kecewa atau luka. Dan syukur kata terpantas dari sekian banyaknya kata, saat kita rampung menjalaninya.

Dari sekian waktu dan kisah-kisah yang dikitarinya. Percaya atau tidak semoga di satu dua tiga tahun kedepan,  kita akan sama-sama berdoa. Kita akan dibuat rindu karenanya. (Lalu dua tangan mengadah dan berujar“ aamin!”. Untuk segalanya. ) Jangan khawatir. Walaupun dulu hal itu yang kausebut kecewa. Bisa jadi  itu yang akan teramat kaurindukan sekarang.
Baiklah, kuceritakan salah satunya...

Kukira didunia ini, wanita cerdas akan tangguh menghadapi cinta. Ternyata bukan demikian. Perempuan tersohor dengan prestasi 7 bintang langitpun pernah terseok didalamnya. Disaat dia kecewa akan penyesalannya, ada aku yang bersyukur karenanya. Sebagai ganti saat seorang sahabat kufur akan nikmat-Nya. Dan saat kutahu aku bukan satu-satunya.

Dua tahun silam cerita yg sama. Akal sehat ku pun dibuat tidak sampai menyentuhnya. Dibuat error oleh satu nama. Pemilik nama yang ku puja disetiap tulisannya. Sering sekali, dibuatnya gaguk, diam tergugu tak berani menyapa. Antara kecewa, luka atau pura pura lupa.

Masih dengan abu abu. Cerita masa muda, dua tahun kelam.

Ombak laut lepas, mengkaramkan iri akan rasa tak memiliki. Namun tidak ada yang lebih baik dari rasa memiliki sekalipun. Yang ada hanya dengki. Benci meniti sampai ke hati. Hanya ada sepekat gelap malam dan selembut kabut yang turun pelan. Saat sadar, dia tak bisa kau hilangkan dari hatimu yang sekarang

Masih sama. Langit karam ditengah galaknya serdadu petir. Matahari,  bintang, awanpun  tak lagi mampu menempatkan diri . Saat seorang perempuan meyesakan lukanya tanpa bisa apaapa. Ketika segalanya menjelma rupa-rupa kata, yang tak mampu diuraikannya dengan airmata. Maka, hanya bisa ditulislah segalanya. Tumpah !Hanya majas dengki penuhi setiap lariknya

Paragraf terakhir tentang wanita itu. Dua tahun silam ada wanita yang membuatku tak pernah tidur untuk terjaga. Lalu aku terkunci di imajinasi yg kucipta sendiri. Yg kutakuti dalam mimpi. Yang akhirnya tak mampu kuhadapi. Pada akhirnya, sampailah aku di penghujung perpisahan itu, melebur dalam rintik hujan, menjelma tanah basah, saling menghilang pelan-pelan. Dan disini aku kembali tenang

Kurasa roda memang harus beruas dan dunia terus berputar. Agar ini tak jadi kesekian kalinya aku tanya mengapa. Bahwa memang benar semua pada waktunya. Baik suka, duka, maupun kecewa  telah mempunyai tempatnya masing-masing. Tak perlu jungkir balik bertanya kapan waktunya tiba.

Tamat
.



Saturday, 27 December 2014

#dear

Tak pernah bilang bukan berarti tak suka. Tak pernah menunjukkan bukan berarti tak ada rasa. 
Perasaan tetaplah perasaan. Ia akan tetap ada walau tanpa kata.

yes, sir ? :)


#dear

beberapa hari yang lalu sempat ada satu kesedihan yang tidak bisa dijelaskan dengan apa-apa

sekarang atau kedepan mungkin mulai ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan apa-apa

kamu tau ?

#dear

Sepertinya aku tak perlu mengatakan ini.
Kau cukup menanyakannya kepada seluruh alam.
Mereka tahu apa yang aku rasa.
Karena kepada mereka aku bercerita.
Hanya kepadamu kubalas senyum
Akupun tak tahu mengapa?
Mungkin alam tahu penyebabnya.

:)

#dear

Malam hari, hujan, alfamart dan hari Kamis. Bisa diulang kembali? :)

#dear

"Di sini, seseorang menutup rapat-rapat jendelanya lalu mematikan lampu. Dia takut hujan akan mengetuk pintu kenangannya, sekali lagi" dikatakannya oleh seseorang disana, dalam tulisannya.

tapi sepertinya aku  tidak akan lebih repot dari dia. Ada pawang hujan yang sedia pagi siang dan malam disini. hehe terima kasih :)

#dear

"Aku ingin menepi. Pulang. Menuju duniaku yang sebelumnya. Yang ketika berada di bawah matahari, aku bisa tersenyum sepanas apapun itu" dikatakan oleh seseorang disaat rasa yg sama tergelak dipikiranku, dulu.


sekarang, mungkin sedikit sedikit aksara pulang terlihat  lebih tegar dan pantang.
Saat kau sedikit banyak membantuku menepis segala rindu

:)

#dear

Menulis sajak untuk seseorang tanpa dia ketahui, memang selalu menyenangkan.

Lebih menyenangkan lagi ketika tahu seseorang membalasnya diam-diam 

#dear

Pada zaman dahulu kala, di suatu negara yang indah, hiduplah seorang gadis. 
Dikisahkan bahwa dia menyukai seorang pangeran 
Namun hingga halaman terakhir buku dongeng itu, sang pangeran tak pernah tau



tamat.

#dear

terus kirimkan isyarat,
entah kenapa aku semakin suka menerka nerka
siapa lagi kalo bukan kamu,
yang membuatku jatuh cinta tanpa sengaja,

dari segala hal yang kurencanakan, kau membuatku jatuh cinta tanpa rencana

#dear

kau mengalirkan semua tanpa aba-aba
sekarang,
tanpa kau bersua, boleh langsung kujawab iya ? :)

#dear

kau kan yang punya kata kata
tegur aku jika aku berlebihan memaknai dalamnya


 
Jika setiap hari adalah hari dimana aku berpartner denganmu

Dimana setiap waktuku ada untuk melipur lelahmu

Dimana setiap keringatku ada dalam setiap pekerjaanmu

Dimana senyum dan jamuanku  ada untuk menawar segala risaumu

Dimana setiap celotehku kau urai sekian kali menjadi prestasimu

Dimana setiap kesalahanmu pun aku

Tak menjadi mengapa atas akibat yang telah diperbuat

Karena kita adalah pelengkap sebagai semua sebab


Yaa

 Betapa tak dapat kuurai rasa bahagia itu

 Hingga sekali lagi

 Aku memilihmu sebagai subjek utama dalam rangkaian


 Terima kasih, senang berpartner denganmu.  :)


Wednesday, 24 December 2014

Jika di dalam hidupmu, kau bertemu perempuan yang selalu ingin tahu tentangmu, 
yang mengabarkan perihal dirinya sendiri tanpa di pinta, 
yang tak henti melulu melihat kepadamu saja, yang mengetuk waktumu tak mengenal jeda hari,
 yang bahkan tersering memaksakan hendak menuntas rindu. 
Apa yang akan kau fikirkan tentangnya?

jawab sajaa :D

Sunday, 21 December 2014

sometimes the best thing you can do is
not wonder 
not think
not obsess
not imagine
just breathe and have faith that everything will work out for the best,
 exactly

Tuesday, 16 December 2014


Kurajut nama nama itu dalam doa. Sebagaimana kita tahu salah satu waktu dimana tiap munajat kan terijabah ialah ketika hujan turun. Maka perasaan pertama  bahkan satu satunya yang muncul saat aku mendengar rerintik pertama diatap tempat singgah adalah bahagia. Bahagia karena tak lama lagi akan timbul pena pena warna menggores objek yang begitu aku suka. Pelangi. Sebagaimana dalam cerita, akan ada waktunya turun bidadari mengobati luka. Begitu pula doa, dimana munajat kupanjatkan dalam hujan, semoga terijabah dengan dipertemukan nama dalam doa. Sebagai pelangi yang kusuka. Sebagai penawar luka yang cukup ramah.


02.00 dini hari. Waktu yang tepat  membekukan pikiran.Waktu yang  tepat  memperbincangan ego,  hati ,pikiran, logika yang mulai diperdebatkan.Tidak jauh berbeda dengan malam sebelumnya, ditemani  segelas teh dan mie goreng spesial akhir bulan. Menilik satu persatu rutinitas sebagai bahan lamunan setiap malam. Masih sama. Rindu kepada yang lalu tetaplah hantu nomer satu. Berputar keras menata segala rindu dan kalut. Seruputan paling dalam menantang jam dinding yang terlihat puas. Memberdayakan setiap lakon yang menyadari keber-ada-annya.

Kalut adalah kepastian, saat tau waktu tak pernah berhenti menunggu istirahatmu. Apalagi tenatng merindu. “secepat apapun, saat –saat istirahatmu aku yang mendahuluimu.” waktu adalah nomer satu secepat apapun kukebut. Pilihan satu kukebut tanpa peduli rambu, tentang waktu yang kukejar dengan seribu maut . Dua kukebut dengan bambu, siaga bertempur sewaktu waktu . Tiga tanpa kukebut, selamatlah aku. Empat, tanpa kukebut aku semakin jauh.


Disetiap malam yang berbeda, dengan teman yang berbeda. Waktulah yang paling mengutuk,  melihatku gaguk meringkuk tak menahu dipoint berapa aku ini menuju.

Disetiap malam yang berbeda, dengan teman yang berbeda. Dari kicau burung, gemericik hujan, aliran sungai,  rindukulah yang paling merdu. Dari macetnya jalanan, riuhnya padat kota, maraknya kejahatan yang ada, jiwaku lebih remuk bertalu talu menahan rindu yang terus menumpuk. 

Wednesday, 31 December 2014

“Terkadang cinta membuat gegabah. Lupa, jika untuk mencapai tujuan kau harus tahu arah. Hingga pada akhirnya tersesat dalam amarah”

Setiap orang punya cara sendiri untuk melewati masanya. Ya, dengan berbagai macam cerita. Dengan berbagai rasa tentunya. Dimana dulu kita sebut itu kecewa atau luka. Dan syukur kata terpantas dari sekian banyaknya kata, saat kita rampung menjalaninya.

Dari sekian waktu dan kisah-kisah yang dikitarinya. Percaya atau tidak semoga di satu dua tiga tahun kedepan,  kita akan sama-sama berdoa. Kita akan dibuat rindu karenanya. (Lalu dua tangan mengadah dan berujar“ aamin!”. Untuk segalanya. ) Jangan khawatir. Walaupun dulu hal itu yang kausebut kecewa. Bisa jadi  itu yang akan teramat kaurindukan sekarang.
Baiklah, kuceritakan salah satunya...

Kukira didunia ini, wanita cerdas akan tangguh menghadapi cinta. Ternyata bukan demikian. Perempuan tersohor dengan prestasi 7 bintang langitpun pernah terseok didalamnya. Disaat dia kecewa akan penyesalannya, ada aku yang bersyukur karenanya. Sebagai ganti saat seorang sahabat kufur akan nikmat-Nya. Dan saat kutahu aku bukan satu-satunya.

Dua tahun silam cerita yg sama. Akal sehat ku pun dibuat tidak sampai menyentuhnya. Dibuat error oleh satu nama. Pemilik nama yang ku puja disetiap tulisannya. Sering sekali, dibuatnya gaguk, diam tergugu tak berani menyapa. Antara kecewa, luka atau pura pura lupa.

Masih dengan abu abu. Cerita masa muda, dua tahun kelam.

Ombak laut lepas, mengkaramkan iri akan rasa tak memiliki. Namun tidak ada yang lebih baik dari rasa memiliki sekalipun. Yang ada hanya dengki. Benci meniti sampai ke hati. Hanya ada sepekat gelap malam dan selembut kabut yang turun pelan. Saat sadar, dia tak bisa kau hilangkan dari hatimu yang sekarang

Masih sama. Langit karam ditengah galaknya serdadu petir. Matahari,  bintang, awanpun  tak lagi mampu menempatkan diri . Saat seorang perempuan meyesakan lukanya tanpa bisa apaapa. Ketika segalanya menjelma rupa-rupa kata, yang tak mampu diuraikannya dengan airmata. Maka, hanya bisa ditulislah segalanya. Tumpah !Hanya majas dengki penuhi setiap lariknya

Paragraf terakhir tentang wanita itu. Dua tahun silam ada wanita yang membuatku tak pernah tidur untuk terjaga. Lalu aku terkunci di imajinasi yg kucipta sendiri. Yg kutakuti dalam mimpi. Yang akhirnya tak mampu kuhadapi. Pada akhirnya, sampailah aku di penghujung perpisahan itu, melebur dalam rintik hujan, menjelma tanah basah, saling menghilang pelan-pelan. Dan disini aku kembali tenang

Kurasa roda memang harus beruas dan dunia terus berputar. Agar ini tak jadi kesekian kalinya aku tanya mengapa. Bahwa memang benar semua pada waktunya. Baik suka, duka, maupun kecewa  telah mempunyai tempatnya masing-masing. Tak perlu jungkir balik bertanya kapan waktunya tiba.

Tamat
.



Saturday, 27 December 2014

#dear

Tak pernah bilang bukan berarti tak suka. Tak pernah menunjukkan bukan berarti tak ada rasa. 
Perasaan tetaplah perasaan. Ia akan tetap ada walau tanpa kata.

yes, sir ? :)


#dear

beberapa hari yang lalu sempat ada satu kesedihan yang tidak bisa dijelaskan dengan apa-apa

sekarang atau kedepan mungkin mulai ada kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan apa-apa

kamu tau ?

#dear

Sepertinya aku tak perlu mengatakan ini.
Kau cukup menanyakannya kepada seluruh alam.
Mereka tahu apa yang aku rasa.
Karena kepada mereka aku bercerita.
Hanya kepadamu kubalas senyum
Akupun tak tahu mengapa?
Mungkin alam tahu penyebabnya.

:)

#dear

Malam hari, hujan, alfamart dan hari Kamis. Bisa diulang kembali? :)

#dear

"Di sini, seseorang menutup rapat-rapat jendelanya lalu mematikan lampu. Dia takut hujan akan mengetuk pintu kenangannya, sekali lagi" dikatakannya oleh seseorang disana, dalam tulisannya.

tapi sepertinya aku  tidak akan lebih repot dari dia. Ada pawang hujan yang sedia pagi siang dan malam disini. hehe terima kasih :)

#dear

"Aku ingin menepi. Pulang. Menuju duniaku yang sebelumnya. Yang ketika berada di bawah matahari, aku bisa tersenyum sepanas apapun itu" dikatakan oleh seseorang disaat rasa yg sama tergelak dipikiranku, dulu.


sekarang, mungkin sedikit sedikit aksara pulang terlihat  lebih tegar dan pantang.
Saat kau sedikit banyak membantuku menepis segala rindu

:)

#dear

Menulis sajak untuk seseorang tanpa dia ketahui, memang selalu menyenangkan.

Lebih menyenangkan lagi ketika tahu seseorang membalasnya diam-diam 

#dear

Pada zaman dahulu kala, di suatu negara yang indah, hiduplah seorang gadis. 
Dikisahkan bahwa dia menyukai seorang pangeran 
Namun hingga halaman terakhir buku dongeng itu, sang pangeran tak pernah tau



tamat.

#dear

terus kirimkan isyarat,
entah kenapa aku semakin suka menerka nerka
siapa lagi kalo bukan kamu,
yang membuatku jatuh cinta tanpa sengaja,

dari segala hal yang kurencanakan, kau membuatku jatuh cinta tanpa rencana

#dear

kau mengalirkan semua tanpa aba-aba
sekarang,
tanpa kau bersua, boleh langsung kujawab iya ? :)

#dear

kau kan yang punya kata kata
tegur aku jika aku berlebihan memaknai dalamnya

 
Jika setiap hari adalah hari dimana aku berpartner denganmu

Dimana setiap waktuku ada untuk melipur lelahmu

Dimana setiap keringatku ada dalam setiap pekerjaanmu

Dimana senyum dan jamuanku  ada untuk menawar segala risaumu

Dimana setiap celotehku kau urai sekian kali menjadi prestasimu

Dimana setiap kesalahanmu pun aku

Tak menjadi mengapa atas akibat yang telah diperbuat

Karena kita adalah pelengkap sebagai semua sebab


Yaa

 Betapa tak dapat kuurai rasa bahagia itu

 Hingga sekali lagi

 Aku memilihmu sebagai subjek utama dalam rangkaian


 Terima kasih, senang berpartner denganmu.  :)


Wednesday, 24 December 2014

Jika di dalam hidupmu, kau bertemu perempuan yang selalu ingin tahu tentangmu, 
yang mengabarkan perihal dirinya sendiri tanpa di pinta, 
yang tak henti melulu melihat kepadamu saja, yang mengetuk waktumu tak mengenal jeda hari,
 yang bahkan tersering memaksakan hendak menuntas rindu. 
Apa yang akan kau fikirkan tentangnya?

jawab sajaa :D

Sunday, 21 December 2014

sometimes the best thing you can do is
not wonder 
not think
not obsess
not imagine
just breathe and have faith that everything will work out for the best,
 exactly

Tuesday, 16 December 2014


Kurajut nama nama itu dalam doa. Sebagaimana kita tahu salah satu waktu dimana tiap munajat kan terijabah ialah ketika hujan turun. Maka perasaan pertama  bahkan satu satunya yang muncul saat aku mendengar rerintik pertama diatap tempat singgah adalah bahagia. Bahagia karena tak lama lagi akan timbul pena pena warna menggores objek yang begitu aku suka. Pelangi. Sebagaimana dalam cerita, akan ada waktunya turun bidadari mengobati luka. Begitu pula doa, dimana munajat kupanjatkan dalam hujan, semoga terijabah dengan dipertemukan nama dalam doa. Sebagai pelangi yang kusuka. Sebagai penawar luka yang cukup ramah.

02.00 dini hari. Waktu yang tepat  membekukan pikiran.Waktu yang  tepat  memperbincangan ego,  hati ,pikiran, logika yang mulai diperdebatkan.Tidak jauh berbeda dengan malam sebelumnya, ditemani  segelas teh dan mie goreng spesial akhir bulan. Menilik satu persatu rutinitas sebagai bahan lamunan setiap malam. Masih sama. Rindu kepada yang lalu tetaplah hantu nomer satu. Berputar keras menata segala rindu dan kalut. Seruputan paling dalam menantang jam dinding yang terlihat puas. Memberdayakan setiap lakon yang menyadari keber-ada-annya.

Kalut adalah kepastian, saat tau waktu tak pernah berhenti menunggu istirahatmu. Apalagi tenatng merindu. “secepat apapun, saat –saat istirahatmu aku yang mendahuluimu.” waktu adalah nomer satu secepat apapun kukebut. Pilihan satu kukebut tanpa peduli rambu, tentang waktu yang kukejar dengan seribu maut . Dua kukebut dengan bambu, siaga bertempur sewaktu waktu . Tiga tanpa kukebut, selamatlah aku. Empat, tanpa kukebut aku semakin jauh.


Disetiap malam yang berbeda, dengan teman yang berbeda. Waktulah yang paling mengutuk,  melihatku gaguk meringkuk tak menahu dipoint berapa aku ini menuju.

Disetiap malam yang berbeda, dengan teman yang berbeda. Dari kicau burung, gemericik hujan, aliran sungai,  rindukulah yang paling merdu. Dari macetnya jalanan, riuhnya padat kota, maraknya kejahatan yang ada, jiwaku lebih remuk bertalu talu menahan rindu yang terus menumpuk. 
© 29 September
Maira Gall