Saturday, 29 March 2014

-catatan-




Hari pertama, mencari istana baru tempat melepas penat semua kegiatan. Mencari pernak pernik perabot dan akan siap ditempatinya dalam satu tahun kedepan. Suasana baru untuk desain cerita yang baru
Hari kedua. Mendaftarkan diri dan selanjutnya dia resmi menjadi mahasiswa  dengan almamater hijau serta logo khas pertaniannya sebagai identitas. Dan senang melihat ibunya turut bangga dengan busana baru si anak bungsu
Hari ketiga. Syukur tetap menjadi pilihannya. Sebelum kita tahu kapan kita salah jalan. Karna perjalanan masih baru, tanpa jalanan yang berliku, tak pula berbatu
Hari keempat. Kereta gaya baru malam melaju mengantarkan wanita cantik itu kembali dalam rutinitasnya. Dan ini akan menjadi waktu yang  terlalu panjang untuk dilewatkan sendiri tanpa kerabat
Hari ke5 dan seterusnya menjadi hari yang sangat melelahkan untuk menjalani tiga kehidupan sebagai akademisi, pemimpin diri sendiri, dan makhluk sosial dilingkungan yang baru. Rutinitas akademis yang padat, adaptasi disetiap tempat, subjek, dan situasi. Ternyata menjadi aktivis pun juga tak semudah yangdia baca dari diari seseorang. Berkorban waktu fisik dan mental untuk menjalaninya satu persatu. Mau tak mau sudah menjadi pilihan dia harus bertahan. Terkadang lembaran masa lalu ikut terselip dan lirih hati meminta untuk kembali. Karna hati tersadar belum ada kessuaian antara kawan, lingkungan dan budaya. Kalian yang beda pasti paham, ini susah karna telalu berbeda. Tapi sekali lagi otak melemahkan semua. Otak berkeras ini tetap jalannya !Ya, semua masih sama tak ada yang berubah dan tak sempurna. Sama seperti dulu. Sesekali tersandung untuk merunduk, sesekali tertampar  untuk sadar, sesekali prestasi sebagai peluruhnya. Dan dia harus menikmatinya. Karena diyakininya dalam proses tak ada yang memudahkan selain kepalsuan sebagai jalan pintasnya. Dan ini janjinya pada Tuhan. "Aku mau belajar menjalani semua untuk mimpi, cita dan asa yang masih tergantung di angan. Juga seperti kawan lainnya, aku siap merasakan betapa sakitnya proses"




Saturday, 29 March 2014

-catatan-




Hari pertama, mencari istana baru tempat melepas penat semua kegiatan. Mencari pernak pernik perabot dan akan siap ditempatinya dalam satu tahun kedepan. Suasana baru untuk desain cerita yang baru
Hari kedua. Mendaftarkan diri dan selanjutnya dia resmi menjadi mahasiswa  dengan almamater hijau serta logo khas pertaniannya sebagai identitas. Dan senang melihat ibunya turut bangga dengan busana baru si anak bungsu
Hari ketiga. Syukur tetap menjadi pilihannya. Sebelum kita tahu kapan kita salah jalan. Karna perjalanan masih baru, tanpa jalanan yang berliku, tak pula berbatu
Hari keempat. Kereta gaya baru malam melaju mengantarkan wanita cantik itu kembali dalam rutinitasnya. Dan ini akan menjadi waktu yang  terlalu panjang untuk dilewatkan sendiri tanpa kerabat
Hari ke5 dan seterusnya menjadi hari yang sangat melelahkan untuk menjalani tiga kehidupan sebagai akademisi, pemimpin diri sendiri, dan makhluk sosial dilingkungan yang baru. Rutinitas akademis yang padat, adaptasi disetiap tempat, subjek, dan situasi. Ternyata menjadi aktivis pun juga tak semudah yangdia baca dari diari seseorang. Berkorban waktu fisik dan mental untuk menjalaninya satu persatu. Mau tak mau sudah menjadi pilihan dia harus bertahan. Terkadang lembaran masa lalu ikut terselip dan lirih hati meminta untuk kembali. Karna hati tersadar belum ada kessuaian antara kawan, lingkungan dan budaya. Kalian yang beda pasti paham, ini susah karna telalu berbeda. Tapi sekali lagi otak melemahkan semua. Otak berkeras ini tetap jalannya !Ya, semua masih sama tak ada yang berubah dan tak sempurna. Sama seperti dulu. Sesekali tersandung untuk merunduk, sesekali tertampar  untuk sadar, sesekali prestasi sebagai peluruhnya. Dan dia harus menikmatinya. Karena diyakininya dalam proses tak ada yang memudahkan selain kepalsuan sebagai jalan pintasnya. Dan ini janjinya pada Tuhan. "Aku mau belajar menjalani semua untuk mimpi, cita dan asa yang masih tergantung di angan. Juga seperti kawan lainnya, aku siap merasakan betapa sakitnya proses"




© 29 September
Maira Gall