Tuesday, 3 March 2015

HASIL JEPRETAN PERTAMA NIH !!! :D

SISI CANTIK DIPLOMA :P






















IPB: Menuju sekolah vokasi

IPB: Menuju Sekolah Vokasi IPB

Program Diploma IPB, Bogor. Pengembangan pendidikan dari Program Diploma IPB menjadi Sekolah Vokasi masih menjadi  isu terhangat dikalangan mahasiswa. Informasi-informasi yang terkait dengan perkembangan berita itu pun masih simpang siur. Walaupun sudah banyak berbagai isu yang terbentuk dikalangan mahasiswa terkait dengan berita tersebut. Salah satu isunya adalah adanya perubahan nama “Program Diploma IPB menjadi PPB( Politeknik Pertanian Bogor)”.

Direktur Diploma Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir Bagus P. Purwanto, M.Agr mengemukakan bahwa isu terkait dengan  perubahan nama Program  Diploma IPB menjadi PPB (Politeknik Pertanian Bogor) itutidak benar. “Tidak ada perubahan nama seperti itu, sama halnya dengan UGM nama kita akan menjadi Sekolah Vokasi IPB” katanya, saat ditemui di Gedung CC Program Diploma IPB.
Ditambahkan juga oleh Direktur Diploma IPB, bahwa akan ada perbedaan model pembelajaran dari sebelumnya.  Model delivery pembelajaran yang akan diterapkan mengarah kepada pendidikan ketrampilan. Dimana mahasiswa akan diarahkan pada sistem penempatan kerja langsung di industri sekitar diatas 40%, kuliah 20% dan praktikum 20%. Dengan sistem jam belajar yang tetap mengacu pada 108-110 SKS. Lama jenjang pendidikan yang ditempuh mahasiswa pun nantinya akan disesuaikan dengan jenjang yang dipilih yaitu, D1 satu tahun, D2 dua tahun, D3 tiga tahun dan D4 selama empat tahun.

Berita lainnya yang terkait dengan pengembangan ke arah Pendidikan Sekolah Vokasi seperti peresmian yang akan dilakukan pada bulan Maret tahun 2015 dan akan adanya jurusan baru pun juga tidak dibenarkan oleh Direktur Program Diploma IPB. “Kita belum mengarah kesitu, ada beberapa tahap yang perlu kita lakukan dan koordinasikan dengan pihak rektor, karna pengembangan ke arah sekolah vokasi bukan hanya keinginan dari pihak kita sendiri tetapi didukung oleh banyak pihak”.

Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Bidang Sumber Daya dan Kajian Strategis Prof. Hermanto Siregar pun juga mengapresiasi Program Diploma IPB  yang menyelanggarakan loka karya Nasional Program Vokasi pada hari Senin 28 Oktober 2015 di IPB Conventional Center Bogor. Dikutip dari antarabogor.com Prof. Hermanto mengemukakan “Pengarausatamaan pertanian tidak bisa dilaksanakan jika tenaga pendidikan menengah tidak dipersiapkan, oleh karena itu dikembangkan sekolah vokasi di IPB”.

Mahasiswa pun menyambut hangat dengan adanya pengembangan ke arah Pendidikan Sekolah Vokasi. “Saya sih sangat senang  jika Program Diploma menjadi sekolah vokasi, tetapi pengembangan tersebut juga harus diikuti dengan pengembangan fasilitasnya dan nama IPB tidak ikut dihilangkan” ujar Devi mahasiswi Program Keahlian Ekowisata 50. Aspirasi dari mahasiswa pun tidak diacuhkan oleh institusi. Pengembangan fasilitas akan tetap dijalankan seperti biasa dengansistem program jalan.


Harapan dari Direktur Program Diploma IPB sendiri terkait dengan pengembangan pendidikan ke arah vokasi adalahindustri yang bekerjasama dapat memperbesar peluang beasiswa dan peluang magang mahasiswa sehingga lulusan dapat sesuai dengan bidangnya. (nisa nur hafidza)

Tidak ada dalam kamus “terlalu baik berarti salah”. Kalau salah ya berarti bukan kebaikan. Kalau dari sikap baik kita dibodohi, salahnya bukan dikita. Mereka yang jahat. Orang jahat jangan dipedulikan, biar Tuhan nanti yang menghakimi. Jika dari sikap baik kita dimanfaatkan,ucapkan syukur alhamdulillah. Sebaik baiknya manusia adalah mereka yang menebar kebermanfaatan.  InsyaAllah Tuhan yang balas.


Jangan adakan banyak halangan untuk berbuat kebaikan. Kamus besar bahasa Indonesia belum pernah salah mengartikan keduanya. Baik ya baik. Salah ya salah. Tidak ada baik yang mengandung salah J

Filosofi pecel


Filosofi pecel ini saya buat untuk menjawab pertanyaan dari seseorang yang cukup kami teladani. Berawal dari beliau menanyakan asal daerah saya hingga berujung pada pertanyaan yang menurut saya sangat menarik. Beliau menanyakan sebuah pertanyaan yang bagi saya cukup sederhana namun  banyak memotivasi saya untuk bersabar akan suatu hal.

R : Asalnya darimana de?
S: Dari madiun ka.
R: Oh madiun, oleh olehnya pecel ya ?
S: Iya ka hehe, selain itu ada juga brem dan madu mongso ka
R : “Bisa diceritakan  filosofi dari pecel ga de ?”

Menurut saya sendiri pecel merupakan makanan unik yang cukup istimewa. Saat dimana bisa dengan mudah saya jumpai, dia terasa biasa namun cukup mengganjal rasa lapar. Namun saat dia susah untuk dijumpai, dia masuk dalam daftar kerinduan saya ditanah perantauan. Harapannya sih, kita sebagai warga madiun kurang lebih memiliki hal yang serupa dengan makanan satu ini. Biasa namun cukup menebar kebermanfaatan. Disaat tak ada, kami dirindukan karena rasa kehilangan. Harapan yang tak cukup tinggi untuk di aaminkan bukan ? hehe. Aamin

Pecel berasal dari kacang tanah. Cita rasa bumbu yang diwujudkan dalam segumpal bungkusan plastik ini berawal dari olahan yang luar biasa. Diawali dari proses penanaman benih kacang, perawatan hingga  pemanenannya. Tak cukup sampai disitu, selanjutnya ia disangrai, digeprek, dan diuleni (campuri) dengan berbagai bumbu bumbu penyedapnya. Dari bumbu bumbu pedas manis asin terciptalah rasa  luar biasa yang mempunyai kekhasan tersendiri untuk membanggakan daerah asalnya J

Satu harapan lain dibalik oleh oleh khas madiun ini adalah kita warga madiun mampu dianalogikan seperti halnya pecel. Kami berasal dari kalangan orang biasa yang memulainya dari bawah. Dibekali dari perawatan kasih sayang keluarga serta didikan leluhur sekitar, kami siap untuk terjun keluar. Dengan bekal semangat dan niat kami siap diolah untuk lebih berkualitas. Digeprek diuleni dengan berbagai bumbu pengalaman pait asem pedes manis, hingga terciptalah rasa manusia yang luar biasa. Sederhana namun bermanfaat. Biasa namun memberi arti sekitar. Hingga mereka bangga menyebut kami dari kota kami berasal.

Dari sepiring nasi pecel, saya belajar kehidupan. Dari sepiring nasi pecel, saya menyadari bahwa hakikat kita sebagai kalangan yang memulai dari bawah. Bahwa kita cukup sederhana, namun kaya makna.

Dari uraian tersebut mungkin dapat diringkaskan filosofi pecel adalah Berangkat dari kesederhanaan ia membawa cita rasa tersendiri sebagai kebanggaan




Tiga mata sisi Aktivis



Aktivis
Yang paling dilupa oleh mereka 
Saat ia mengaku bela negara, ia berontak tanpa jala
Dia lupa akan budayanya
yang mengenal ramah tamah, sopan santun dan pekerti luhur
kadang cita melewati cinta
menggepuk asa lupa cara
bangun negara bukankan lebih baik juga dengan cinta?
luhur bangsaku membela rakyat dengan akur


satu sisi beda cerita

ya...
aktivis bukan jagoan
dia juga mahasiswa
mahasiswa yang penuh cinta
bukan dramatis melankolis
mereka punya insting realistis

tak sekedar rupa rupawan
dia cendikiawan yang sadar kebajikan
berani berprestasi berani bersolusi
tak hanya mengkritisi

aktivis juga tak lupa akan suatu masa
dimana ia akan mencerdaskan dirinya
guna mencerdaskan bangsanya


satu sisi beda cerita
aktivis
ya, benar ia beda
tapi
 ia tak pernah memalingkan diri
tak ingin mengasingkan diri
ia dan teman masih ingin berkawan
ia dengan sibuknya bukanlah hal pembeda
dia penebar manfaat dengan menyungging ilmu ikhlas

jikalah yang didapat hanya cibiran
aktivis, bersabarlah...



Tuesday, 3 March 2015

HASIL JEPRETAN PERTAMA NIH !!! :D

SISI CANTIK DIPLOMA :P






















IPB: Menuju sekolah vokasi

IPB: Menuju Sekolah Vokasi IPB

Program Diploma IPB, Bogor. Pengembangan pendidikan dari Program Diploma IPB menjadi Sekolah Vokasi masih menjadi  isu terhangat dikalangan mahasiswa. Informasi-informasi yang terkait dengan perkembangan berita itu pun masih simpang siur. Walaupun sudah banyak berbagai isu yang terbentuk dikalangan mahasiswa terkait dengan berita tersebut. Salah satu isunya adalah adanya perubahan nama “Program Diploma IPB menjadi PPB( Politeknik Pertanian Bogor)”.

Direktur Diploma Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir Bagus P. Purwanto, M.Agr mengemukakan bahwa isu terkait dengan  perubahan nama Program  Diploma IPB menjadi PPB (Politeknik Pertanian Bogor) itutidak benar. “Tidak ada perubahan nama seperti itu, sama halnya dengan UGM nama kita akan menjadi Sekolah Vokasi IPB” katanya, saat ditemui di Gedung CC Program Diploma IPB.
Ditambahkan juga oleh Direktur Diploma IPB, bahwa akan ada perbedaan model pembelajaran dari sebelumnya.  Model delivery pembelajaran yang akan diterapkan mengarah kepada pendidikan ketrampilan. Dimana mahasiswa akan diarahkan pada sistem penempatan kerja langsung di industri sekitar diatas 40%, kuliah 20% dan praktikum 20%. Dengan sistem jam belajar yang tetap mengacu pada 108-110 SKS. Lama jenjang pendidikan yang ditempuh mahasiswa pun nantinya akan disesuaikan dengan jenjang yang dipilih yaitu, D1 satu tahun, D2 dua tahun, D3 tiga tahun dan D4 selama empat tahun.

Berita lainnya yang terkait dengan pengembangan ke arah Pendidikan Sekolah Vokasi seperti peresmian yang akan dilakukan pada bulan Maret tahun 2015 dan akan adanya jurusan baru pun juga tidak dibenarkan oleh Direktur Program Diploma IPB. “Kita belum mengarah kesitu, ada beberapa tahap yang perlu kita lakukan dan koordinasikan dengan pihak rektor, karna pengembangan ke arah sekolah vokasi bukan hanya keinginan dari pihak kita sendiri tetapi didukung oleh banyak pihak”.

Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor Bidang Sumber Daya dan Kajian Strategis Prof. Hermanto Siregar pun juga mengapresiasi Program Diploma IPB  yang menyelanggarakan loka karya Nasional Program Vokasi pada hari Senin 28 Oktober 2015 di IPB Conventional Center Bogor. Dikutip dari antarabogor.com Prof. Hermanto mengemukakan “Pengarausatamaan pertanian tidak bisa dilaksanakan jika tenaga pendidikan menengah tidak dipersiapkan, oleh karena itu dikembangkan sekolah vokasi di IPB”.

Mahasiswa pun menyambut hangat dengan adanya pengembangan ke arah Pendidikan Sekolah Vokasi. “Saya sih sangat senang  jika Program Diploma menjadi sekolah vokasi, tetapi pengembangan tersebut juga harus diikuti dengan pengembangan fasilitasnya dan nama IPB tidak ikut dihilangkan” ujar Devi mahasiswi Program Keahlian Ekowisata 50. Aspirasi dari mahasiswa pun tidak diacuhkan oleh institusi. Pengembangan fasilitas akan tetap dijalankan seperti biasa dengansistem program jalan.


Harapan dari Direktur Program Diploma IPB sendiri terkait dengan pengembangan pendidikan ke arah vokasi adalahindustri yang bekerjasama dapat memperbesar peluang beasiswa dan peluang magang mahasiswa sehingga lulusan dapat sesuai dengan bidangnya. (nisa nur hafidza)
Tidak ada dalam kamus “terlalu baik berarti salah”. Kalau salah ya berarti bukan kebaikan. Kalau dari sikap baik kita dibodohi, salahnya bukan dikita. Mereka yang jahat. Orang jahat jangan dipedulikan, biar Tuhan nanti yang menghakimi. Jika dari sikap baik kita dimanfaatkan,ucapkan syukur alhamdulillah. Sebaik baiknya manusia adalah mereka yang menebar kebermanfaatan.  InsyaAllah Tuhan yang balas.


Jangan adakan banyak halangan untuk berbuat kebaikan. Kamus besar bahasa Indonesia belum pernah salah mengartikan keduanya. Baik ya baik. Salah ya salah. Tidak ada baik yang mengandung salah J

Filosofi pecel


Filosofi pecel ini saya buat untuk menjawab pertanyaan dari seseorang yang cukup kami teladani. Berawal dari beliau menanyakan asal daerah saya hingga berujung pada pertanyaan yang menurut saya sangat menarik. Beliau menanyakan sebuah pertanyaan yang bagi saya cukup sederhana namun  banyak memotivasi saya untuk bersabar akan suatu hal.

R : Asalnya darimana de?
S: Dari madiun ka.
R: Oh madiun, oleh olehnya pecel ya ?
S: Iya ka hehe, selain itu ada juga brem dan madu mongso ka
R : “Bisa diceritakan  filosofi dari pecel ga de ?”

Menurut saya sendiri pecel merupakan makanan unik yang cukup istimewa. Saat dimana bisa dengan mudah saya jumpai, dia terasa biasa namun cukup mengganjal rasa lapar. Namun saat dia susah untuk dijumpai, dia masuk dalam daftar kerinduan saya ditanah perantauan. Harapannya sih, kita sebagai warga madiun kurang lebih memiliki hal yang serupa dengan makanan satu ini. Biasa namun cukup menebar kebermanfaatan. Disaat tak ada, kami dirindukan karena rasa kehilangan. Harapan yang tak cukup tinggi untuk di aaminkan bukan ? hehe. Aamin

Pecel berasal dari kacang tanah. Cita rasa bumbu yang diwujudkan dalam segumpal bungkusan plastik ini berawal dari olahan yang luar biasa. Diawali dari proses penanaman benih kacang, perawatan hingga  pemanenannya. Tak cukup sampai disitu, selanjutnya ia disangrai, digeprek, dan diuleni (campuri) dengan berbagai bumbu bumbu penyedapnya. Dari bumbu bumbu pedas manis asin terciptalah rasa  luar biasa yang mempunyai kekhasan tersendiri untuk membanggakan daerah asalnya J

Satu harapan lain dibalik oleh oleh khas madiun ini adalah kita warga madiun mampu dianalogikan seperti halnya pecel. Kami berasal dari kalangan orang biasa yang memulainya dari bawah. Dibekali dari perawatan kasih sayang keluarga serta didikan leluhur sekitar, kami siap untuk terjun keluar. Dengan bekal semangat dan niat kami siap diolah untuk lebih berkualitas. Digeprek diuleni dengan berbagai bumbu pengalaman pait asem pedes manis, hingga terciptalah rasa manusia yang luar biasa. Sederhana namun bermanfaat. Biasa namun memberi arti sekitar. Hingga mereka bangga menyebut kami dari kota kami berasal.

Dari sepiring nasi pecel, saya belajar kehidupan. Dari sepiring nasi pecel, saya menyadari bahwa hakikat kita sebagai kalangan yang memulai dari bawah. Bahwa kita cukup sederhana, namun kaya makna.

Dari uraian tersebut mungkin dapat diringkaskan filosofi pecel adalah Berangkat dari kesederhanaan ia membawa cita rasa tersendiri sebagai kebanggaan




Tiga mata sisi Aktivis



Aktivis
Yang paling dilupa oleh mereka 
Saat ia mengaku bela negara, ia berontak tanpa jala
Dia lupa akan budayanya
yang mengenal ramah tamah, sopan santun dan pekerti luhur
kadang cita melewati cinta
menggepuk asa lupa cara
bangun negara bukankan lebih baik juga dengan cinta?
luhur bangsaku membela rakyat dengan akur


satu sisi beda cerita

ya...
aktivis bukan jagoan
dia juga mahasiswa
mahasiswa yang penuh cinta
bukan dramatis melankolis
mereka punya insting realistis

tak sekedar rupa rupawan
dia cendikiawan yang sadar kebajikan
berani berprestasi berani bersolusi
tak hanya mengkritisi

aktivis juga tak lupa akan suatu masa
dimana ia akan mencerdaskan dirinya
guna mencerdaskan bangsanya


satu sisi beda cerita
aktivis
ya, benar ia beda
tapi
 ia tak pernah memalingkan diri
tak ingin mengasingkan diri
ia dan teman masih ingin berkawan
ia dengan sibuknya bukanlah hal pembeda
dia penebar manfaat dengan menyungging ilmu ikhlas

jikalah yang didapat hanya cibiran
aktivis, bersabarlah...



© 29 September
Maira Gall