Saturday, 24 November 2012

-Guratan Sendu si Aissa-




Surgaku adalah kau. Ibu
”Surgalah itu, Ibu. Aku tak akan mampu menjadi seorang aku, jika tanpa kasihmu. Semua hebatku.Tak kan pernah ada,tanpa ikhlas pengorbananmu ”

Tepat 5jam, 171 km sudah kereta ini melaju meninggalkan panas kotaku. Dan jalan langit dikota gadis pun mulai menghilang dari pandangan mata, akan kulupakan sejenak hiruk pikukmu dengan berbalutkan rindu tentunya. Terkecuali saat saat dimana pegawai stasiun memberi  aba-aba sebagai tanda kereta siap diberangkatkan, akan kuingat sisa isakmu yg masih berharga untuk dikenang disepanjang jalan. Ibu, doa ku selalu teruntuk meminta kesembuhanmu dimanapun ketika aku jauh

Ah, kembali aku mengingat cerita 4 hari yang lalu.  Dimana seorang kakak-adik dengan ikhlasnya terdiam menunggu dengan harap di ruang ICU RS. Soedirman . Ya, itu memang aku dan adikku. Aku Aissa Az-Zahirah, mahasiswi semester 2  di salah satu universitas  di Kota malang ,dan adikku Syifa'ul Aska yang masih duduk dibangku sma . Kami masih setia untuk duduk manis dengan harap cemas menunggu kabar dokter yang akankeluar dari ruangan itu . Bukan main rasanya, jika aku bukan sebagai kakak mungkin sudah kuluapkan dengan tangis sekarang juga. Memang Syifa lah , alasanku untuk tetap bersikap tenang menghadapi cobaan seperti sekarang.

Kreeet . 
Suara pintu terbuka dan dengan spontan aku berdiri .” Bagaimana om? ” tanyaku penuh harap . ”Ibumu perlu masa pemulihan, setidaknya ia tak perlu bekerja dan berpikir berat selama beberapa hari. Besok pagi Ibumu sudah bisa dibawa pulang.Selama ayahmu masih dinas, sebagai kakak kamu yang harus beratnggung jawab dengan kesehatan ibumu sa. Kembalilah kesini jika kondisi ibumu tak kunjung pulih, om akan membantu sebisa mungkin” kata Dr. Ichwan,dokter keluarga sekaligus teman dekat ayah sewaktu bangku sma dulu . ”iya  om. terima kasih ” balasku dengan lega. Namun sehari setelahnya sebuah message yang mengabarkanku untuk segera mengikuti semester pendek menggagalkan tanggung jawabku. Karena Ibu lebih menyuruh untuk mementingkan masa depanku ketimbang kesehatannya. Dengan berat tanggung jawabku pun kutitipkan pada adikku, Syifa. Dan berangkatlah aku dihari itu juga

priiiiiiiiiiiiiiittt

Perlahan terdengar suara peluit yang membuyarkan lamunanku untuk kedua kalinya . Kutengok disebrang sana. Disisi jendela kereta, wangi aromamu kian bertebar saat kubaca sebuah nama yang sudah lama kukenal "Stasiun Malang Kotabaru". Di antara suara keriut rem dan gerbong berderet di atas rel memanjang ketika peron jg dipenuhi para pengantar serta calon penumpang,nampak burung-burung gereja menari dipermukaan tanah , seperti sambut kedatangan. Cukup senang melihatnya. Dan dengan seulas senyum yang tersungging, akan segera kumulai hari dengan menyinggahkan kakiku ditanah ini. Dikota yang dulu pernah menjadi mimpi.

" Selamat datang  dikota Bunga. Selamat Pagi."

”Aissaa ! Kamu tadi dicari bu irna bagian keuangan universitas, kebetulan mbak juga mau kekantornya . Ayo bareng mb isna aja,"suara wanita cantik dengan pakaian tertutupnya itu menghentikan langkahku yg terburu buru .
”Syukron mbak, gak usah. Salam aja ke bu irna InsyaAllah  habis dzhuhur aja nanti aissa kesana, aissa mau absen  ke pertemuan Rohis kampus dulu ”.
”Oh, iya. kalau begitu aissa mau nitip lauk apa buat nanti malam ?biar mbak Isna dan Ummu Rita yg beliin. Mbak isna hari ini pulang cepet”. 
”seperti biasa aja mbak, perkedel sama tempe bacem, sayurnya sayur asem aja hehe ” jawabku malu karena selera lauk yang sedikit dibilang ndeso.
”Haha iyadeh mbak isna beliin , pergi duluan ya sa . assalamualaikum”.
”waalikum salam” . Sangat senang bisa ada diantara mereka. bagiku Ummu Rita, Mbak isna dan seluruh anak kost di Puri Ummu Salamah  adalah keluarga kedua ku yang cukup tau semua tentang kebiasaanku. Tapi,tetap saja bahagia tak seperti dulu. Ada banyak yang masih tertinggal diKota Gadis .Wangi penghuni kota itu itu masih melekat seraya menemani langkahku tapaki jalan menuju Mushola Kampus B.  Semoga saja masih ada cerita dengan kesan bahagia tanpa perlu ada rindu yang menyiksa seperti dulu ketika pertama kali kucoba mengenali jalan ini. 

Setiba diMushola Al-Iman , 3-4 rukuk suci kulantunkan dan setelahnya aku memilih untuk istirahat sejenak. Nampaknya langit juga mulai menghitam, mungkin awan tak kuat lagi menahan tangisnya. Dan seperti yang kuterka ia mulai menitikan hujan sekarang juga. Dingin sekali. Adzan dzuhur juga masih lama. "Apa yang akan kulakukan sekarang ?.. (́_̀) " Tak ada sautan untuk pertanyaanku itu . Yang ada hanya suara petir dan gemericik hujan yang selalu syahdu untuk didengar. Aku suka keadaan ini. Aku ingin menikmatinya lebih lama. Tapi tidak demikian dengan mataku, rupanya ia  telah sibuk mengatup sedari tadi,sejak kedatanganku diKampus ini. Apa boleh aku sejenak terlelap disini ?dan memimpikan semua ?Sepertinya tak perlu ada jawaban, langsung saja kumulai dengan sebuah pertanyaan “Apa kabar Ibu di sana?” lalu aku terlelap. Dan Ibu mulai hadir hiasi semua mimpi.

”aissa ,ayo bangun sudah dzuhur. Ketiduran ya?” ucap mbak khanza lembut yang membangunkan tidurku.
“iya mbak, aissa tadi ngantuk dan capek banget soalnya” 
“yaudah, cepat ambil wudhu, jamaah yang lain sudah mulai berdatangan” 
“iya mbak ,syukron udah dibangunin, aissa orangnya emang pengantuk  hehe”. 
Seusai sholat dzuhur dan acara pertemuan Rohis kampus selesai, rasanya ingin segera kembali  ke kost, tetapi mengingat menciderai al-'ahd itu sangat dosa hukumnya , aku memilih untuk pulang setelah menemui bu Irna terlebih dahulu sesuai janjiku . Cukup gugup juga untuk menemuinya karna sepertinya aku tau apa yang akan dibicarakan nanti
***
Tok tok .
Kuketuk pintu ruangan beliau dengan perlahan ,lalu sosok perempuan anggun berwibawa membukakannya untukku . 
“ayo masuk” tak lupa dengan senyumnya beliau menyuruhku masuk. “Aissa Az-Zahirah, yang mengajukan beasiswa itu ya? “ 
“iya bu “ 
“mengenai beasiswa yang kamu ajukan waktu itu, dari pihak kampus tidak bisa diterima” 
“kenapa bu? Apa berkas yang saya ajukan kurang memenuhi?” 
“begitulah, mungkin kamu bisa mengajukan beasiswa lain , seperti pada jalur beasiswa prestasi” . Prestasi ? haha dengan kecerdasan yang sangat biasa ini ? pikirku heran dalam hati
“oh , iya bu. Terima kasih. Mungkin memang belum rezekinya aissa.kalau begitu saya izin pamit pulang dulu bu, ”
” iyaa, silahkan . tetap semangat ya nak.” Ucapnya tetap dengan senyum wibawanya yang menyemangatiku itu. 
“iya bu, hehe. Assalamualaikum”
 “waalaikumsalam”

Ahh harus bilang apa aku nanti pada orang tuaku. Jelas mereka kecewa. Ekonomi keluargaku memang tak lagi seperti dulu. Sejak penyakit ibu semakin parah. Dan adikku syifa yg baru saja menduduki bangku sma ditambah aku juga yang baru 2 semster ini belajar sebagai mahasiswa. Sebaiknya tak perlu kuadukan beban ini pada ayah dan ibu. Tapi  entahlah apa yg harus kulakukan dengan kepandaian yang tak seberapa, ekonomi menengah, dan bakat yang setengah setengah  agar aku tetap bisa memperjuangkan S1 ku dikota ini. Ah, lagi lagi aku mengeluh! Syukur syukur masih ada universitas yang mau menampungku, coba kalo tidak?Ya, walaupun semua yang aku miliki tidak pantas diperhitungkan, harusnya aku tetap berusaha .  Sepertinya memang aku perlu untuk mencoba kerja part time. Mungkin tawaran kerja diswalayan dari Ulfa waktu itu bisa aku terima. Keliahatannya memang sangat melelahkan jika harus membagi-bagi waktu, tapi aku bukan anak sma lagi. Aku mahasiswa yang tengah belajar bagaiaman hidup itu. Manja bukan attitude yang dulu pernah aku rancang sebelum keberangkatanku kuliah diMalang ini . “Ya!aku mantap dan ikhlas mau mencobanya, tapi besok saja aku akan bilang pada ulfa. Cukup penat rasanya hari ini. Aku ingin segera melepas lelah.Semoga saja tidak ada lagi cobaan untukku dalam waktu dekat .Aku benar-benar lelah.. ” gumamku yang akhirnya memilih untuk segra kembali ke kost putri Puri Ummi Salamah.

****
“Assalamualaikum”
 “Waalaikumsalam, laukmu aku taruh meja didekat tangga kamarmu sa”teriak mb isna dari tempat pencucian piring.
 “Iya mbak, makasih ya”
 “Iya sama-sama. Oh ya tadi mbak denger ada suara telfon dari kamarmu. Coba cek iya apa enggak ”
Segera kubuka tas dan benar, tak kutemukan mobile selulerku “Ah iya mbak, Hpku tertinggal dikamar “.Segeraku berlari ke atas dan tak menghiraukan lagi ucapan mbak isna dibawah . “aah batraynya mati !”. Dengan rasa kesal akhirnya aku memilih untuk melanjutkan istirahat siangku tadi dan menunda rasa ingin tahuku tentang siapa  yang menghubungiku.

Tok..tok …”Aissa…” 
terdengar suara ketukan sopan dibalik pintu kamarku. Pasti itu ummi Rita. Suaranya memang sangat lembut. Beliau cantik dan tau cara memposisikan diri seperti Ibunya aissa.
 ” iyaa, ummi”. Ku buka pintu kamarku,lalu ummi masuk dan memilih duduk dikasurku. Menghela nafas sejenak dan memintaku untuk duduk disampingnya. Pemandangan yg sangat kontras dari biasanya, ummi datang dengan mbak isna, mbak haya dan mbak putri. Pantaslah jika sekarang aku bertanya tanya apa yang sedang terjadi. Dari raut wajah ummi dan aura yang tidak seperti biasanya, membuat perasaanku semakin berkecamuk dan mencoba menerka kata apa yang akan diucapkan.”Ada apa dengan ponselmu?”tanyanya penuh khawatir. ”Tidak ada apa-apa, cuma tadi batraynya mati ummi hehe , kenapa emangnya ?” tanyaku heran  melihat wajah ummi yang hendaknya ingin mengatakan sesuatu tapi sedikit enggan. ”Coba kamu charge sekarang, tadi adikmu vira menelepon ummi, dan mengabarkan keadaan ibumu diMadiun”.
 Deg . Dengan tetap berusaha mengatur emosiku dan masih tetap mencoba menerka nerka apa yang telah terjadi aku kembali bertanya ”ada apa dengan Ibu aissa ?”.
”Coba kamu buka ponselmu sekarang” Dengan segera aku mengambil charge dan menyalakan ponselku.

DEG!!
Momen diam tergugu terlama yang aku rasa di tahun ini, terjadi sore ini. Menerima kabar yang seharusnya bisa kuketahui lebih cepat, jika saja aku tak teledor mengisi energi ponselku
5 message 6 misscall
From: +6285735000000
“Mbaak Ibu meninggal mbak !! Kemarin jantung Ibu kambuh lagi, tapi syifa pulang sekolah terlambat, syifa terlambat bawa ibu ke rumah sakit . maaf mb aissaa,syifa yang salah. syifa gagal menggantikan tanggung jawab mb.aissa.Ayah dan mbak aissa cepat pulang ya.... :”)”

 “Innalillahi wa innalillahi roji’un” Sesak, menyesal, merasa bodoh. Seharusnya aku bisa bergegas ada disampingmu ibu, jika aku tidak egois memikirkan beban kuliahku dan mengiyakan pintamu untuk segera mengikuti semester pendekku. Seharusnya aku saat ini memeluk dan menyodorkan bahuku untuk kamu syifa. Seharusnya juga kamu tak menanggung beban sedih ini sendiri disana. Seharusnya, seharusnya dan seharusnya yang hanya ada dalam benakku sekarang dan perlahan air di sela mata meleleh begitu saja.ARGH!! terlambat untuk menyesal sekarang, bodoh !! Peluk sedu dari ummi Rita dan penghuni kost puri ummi salamah pun datang silih berganti untuk menenangkan emosiku. 
”Tuhan mengirimkan pelangi untuk menggantikan hujan.jika kau tau apa sebabnya. Itu krn Dia selalu mendatangkan masalah beserta jawabnya.Kamu harus percaya ada hikmah dibalik kepergiaannya . La tahzan nak, tetaplah semangat. Mungkin Ini cara Tuhan merancang pertemuan dengan salah satu ibu terbaik di dunia” kata ummi rita yang berusaha menghiburku. 
“iya, ummi. Aissa izin pulang ke Madiun sekarang ya” pintaku masih dengan dipenuhi air mata.
 “pulanglah, biar mbak isna yang mengantarmu ke stasiun nanti. Kamu solat ashar dulu ya..” Tatap matanya yang hangat ,menyerupai ibu aissa,
 Ya Tuhan aku rindu pada Ibu..... 

***

“Lembut kukenang, kasihmu ibu.Di dalam hati ku kini menanggung rindu. Engkau tabur kasih seumur masa. Bergetar syahdu oh di dalam nadiku. Tiada ku mampu, membalas jasamu.hanyalah doa oh di setiap waktu...."
salam dari aissa buat Ibu  yang jauh disurga nirwana sana. Semoga Tuhan menyayangi keberadaanmu selalu

No comments

Post a Comment

Saturday, 24 November 2012

-Guratan Sendu si Aissa-




Surgaku adalah kau. Ibu
”Surgalah itu, Ibu. Aku tak akan mampu menjadi seorang aku, jika tanpa kasihmu. Semua hebatku.Tak kan pernah ada,tanpa ikhlas pengorbananmu ”

Tepat 5jam, 171 km sudah kereta ini melaju meninggalkan panas kotaku. Dan jalan langit dikota gadis pun mulai menghilang dari pandangan mata, akan kulupakan sejenak hiruk pikukmu dengan berbalutkan rindu tentunya. Terkecuali saat saat dimana pegawai stasiun memberi  aba-aba sebagai tanda kereta siap diberangkatkan, akan kuingat sisa isakmu yg masih berharga untuk dikenang disepanjang jalan. Ibu, doa ku selalu teruntuk meminta kesembuhanmu dimanapun ketika aku jauh

Ah, kembali aku mengingat cerita 4 hari yang lalu.  Dimana seorang kakak-adik dengan ikhlasnya terdiam menunggu dengan harap di ruang ICU RS. Soedirman . Ya, itu memang aku dan adikku. Aku Aissa Az-Zahirah, mahasiswi semester 2  di salah satu universitas  di Kota malang ,dan adikku Syifa'ul Aska yang masih duduk dibangku sma . Kami masih setia untuk duduk manis dengan harap cemas menunggu kabar dokter yang akankeluar dari ruangan itu . Bukan main rasanya, jika aku bukan sebagai kakak mungkin sudah kuluapkan dengan tangis sekarang juga. Memang Syifa lah , alasanku untuk tetap bersikap tenang menghadapi cobaan seperti sekarang.

Kreeet . 
Suara pintu terbuka dan dengan spontan aku berdiri .” Bagaimana om? ” tanyaku penuh harap . ”Ibumu perlu masa pemulihan, setidaknya ia tak perlu bekerja dan berpikir berat selama beberapa hari. Besok pagi Ibumu sudah bisa dibawa pulang.Selama ayahmu masih dinas, sebagai kakak kamu yang harus beratnggung jawab dengan kesehatan ibumu sa. Kembalilah kesini jika kondisi ibumu tak kunjung pulih, om akan membantu sebisa mungkin” kata Dr. Ichwan,dokter keluarga sekaligus teman dekat ayah sewaktu bangku sma dulu . ”iya  om. terima kasih ” balasku dengan lega. Namun sehari setelahnya sebuah message yang mengabarkanku untuk segera mengikuti semester pendek menggagalkan tanggung jawabku. Karena Ibu lebih menyuruh untuk mementingkan masa depanku ketimbang kesehatannya. Dengan berat tanggung jawabku pun kutitipkan pada adikku, Syifa. Dan berangkatlah aku dihari itu juga

priiiiiiiiiiiiiiittt

Perlahan terdengar suara peluit yang membuyarkan lamunanku untuk kedua kalinya . Kutengok disebrang sana. Disisi jendela kereta, wangi aromamu kian bertebar saat kubaca sebuah nama yang sudah lama kukenal "Stasiun Malang Kotabaru". Di antara suara keriut rem dan gerbong berderet di atas rel memanjang ketika peron jg dipenuhi para pengantar serta calon penumpang,nampak burung-burung gereja menari dipermukaan tanah , seperti sambut kedatangan. Cukup senang melihatnya. Dan dengan seulas senyum yang tersungging, akan segera kumulai hari dengan menyinggahkan kakiku ditanah ini. Dikota yang dulu pernah menjadi mimpi.

" Selamat datang  dikota Bunga. Selamat Pagi."

”Aissaa ! Kamu tadi dicari bu irna bagian keuangan universitas, kebetulan mbak juga mau kekantornya . Ayo bareng mb isna aja,"suara wanita cantik dengan pakaian tertutupnya itu menghentikan langkahku yg terburu buru .
”Syukron mbak, gak usah. Salam aja ke bu irna InsyaAllah  habis dzhuhur aja nanti aissa kesana, aissa mau absen  ke pertemuan Rohis kampus dulu ”.
”Oh, iya. kalau begitu aissa mau nitip lauk apa buat nanti malam ?biar mbak Isna dan Ummu Rita yg beliin. Mbak isna hari ini pulang cepet”. 
”seperti biasa aja mbak, perkedel sama tempe bacem, sayurnya sayur asem aja hehe ” jawabku malu karena selera lauk yang sedikit dibilang ndeso.
”Haha iyadeh mbak isna beliin , pergi duluan ya sa . assalamualaikum”.
”waalikum salam” . Sangat senang bisa ada diantara mereka. bagiku Ummu Rita, Mbak isna dan seluruh anak kost di Puri Ummu Salamah  adalah keluarga kedua ku yang cukup tau semua tentang kebiasaanku. Tapi,tetap saja bahagia tak seperti dulu. Ada banyak yang masih tertinggal diKota Gadis .Wangi penghuni kota itu itu masih melekat seraya menemani langkahku tapaki jalan menuju Mushola Kampus B.  Semoga saja masih ada cerita dengan kesan bahagia tanpa perlu ada rindu yang menyiksa seperti dulu ketika pertama kali kucoba mengenali jalan ini. 

Setiba diMushola Al-Iman , 3-4 rukuk suci kulantunkan dan setelahnya aku memilih untuk istirahat sejenak. Nampaknya langit juga mulai menghitam, mungkin awan tak kuat lagi menahan tangisnya. Dan seperti yang kuterka ia mulai menitikan hujan sekarang juga. Dingin sekali. Adzan dzuhur juga masih lama. "Apa yang akan kulakukan sekarang ?.. (́_̀) " Tak ada sautan untuk pertanyaanku itu . Yang ada hanya suara petir dan gemericik hujan yang selalu syahdu untuk didengar. Aku suka keadaan ini. Aku ingin menikmatinya lebih lama. Tapi tidak demikian dengan mataku, rupanya ia  telah sibuk mengatup sedari tadi,sejak kedatanganku diKampus ini. Apa boleh aku sejenak terlelap disini ?dan memimpikan semua ?Sepertinya tak perlu ada jawaban, langsung saja kumulai dengan sebuah pertanyaan “Apa kabar Ibu di sana?” lalu aku terlelap. Dan Ibu mulai hadir hiasi semua mimpi.

”aissa ,ayo bangun sudah dzuhur. Ketiduran ya?” ucap mbak khanza lembut yang membangunkan tidurku.
“iya mbak, aissa tadi ngantuk dan capek banget soalnya” 
“yaudah, cepat ambil wudhu, jamaah yang lain sudah mulai berdatangan” 
“iya mbak ,syukron udah dibangunin, aissa orangnya emang pengantuk  hehe”. 
Seusai sholat dzuhur dan acara pertemuan Rohis kampus selesai, rasanya ingin segera kembali  ke kost, tetapi mengingat menciderai al-'ahd itu sangat dosa hukumnya , aku memilih untuk pulang setelah menemui bu Irna terlebih dahulu sesuai janjiku . Cukup gugup juga untuk menemuinya karna sepertinya aku tau apa yang akan dibicarakan nanti
***
Tok tok .
Kuketuk pintu ruangan beliau dengan perlahan ,lalu sosok perempuan anggun berwibawa membukakannya untukku . 
“ayo masuk” tak lupa dengan senyumnya beliau menyuruhku masuk. “Aissa Az-Zahirah, yang mengajukan beasiswa itu ya? “ 
“iya bu “ 
“mengenai beasiswa yang kamu ajukan waktu itu, dari pihak kampus tidak bisa diterima” 
“kenapa bu? Apa berkas yang saya ajukan kurang memenuhi?” 
“begitulah, mungkin kamu bisa mengajukan beasiswa lain , seperti pada jalur beasiswa prestasi” . Prestasi ? haha dengan kecerdasan yang sangat biasa ini ? pikirku heran dalam hati
“oh , iya bu. Terima kasih. Mungkin memang belum rezekinya aissa.kalau begitu saya izin pamit pulang dulu bu, ”
” iyaa, silahkan . tetap semangat ya nak.” Ucapnya tetap dengan senyum wibawanya yang menyemangatiku itu. 
“iya bu, hehe. Assalamualaikum”
 “waalaikumsalam”

Ahh harus bilang apa aku nanti pada orang tuaku. Jelas mereka kecewa. Ekonomi keluargaku memang tak lagi seperti dulu. Sejak penyakit ibu semakin parah. Dan adikku syifa yg baru saja menduduki bangku sma ditambah aku juga yang baru 2 semster ini belajar sebagai mahasiswa. Sebaiknya tak perlu kuadukan beban ini pada ayah dan ibu. Tapi  entahlah apa yg harus kulakukan dengan kepandaian yang tak seberapa, ekonomi menengah, dan bakat yang setengah setengah  agar aku tetap bisa memperjuangkan S1 ku dikota ini. Ah, lagi lagi aku mengeluh! Syukur syukur masih ada universitas yang mau menampungku, coba kalo tidak?Ya, walaupun semua yang aku miliki tidak pantas diperhitungkan, harusnya aku tetap berusaha .  Sepertinya memang aku perlu untuk mencoba kerja part time. Mungkin tawaran kerja diswalayan dari Ulfa waktu itu bisa aku terima. Keliahatannya memang sangat melelahkan jika harus membagi-bagi waktu, tapi aku bukan anak sma lagi. Aku mahasiswa yang tengah belajar bagaiaman hidup itu. Manja bukan attitude yang dulu pernah aku rancang sebelum keberangkatanku kuliah diMalang ini . “Ya!aku mantap dan ikhlas mau mencobanya, tapi besok saja aku akan bilang pada ulfa. Cukup penat rasanya hari ini. Aku ingin segera melepas lelah.Semoga saja tidak ada lagi cobaan untukku dalam waktu dekat .Aku benar-benar lelah.. ” gumamku yang akhirnya memilih untuk segra kembali ke kost putri Puri Ummi Salamah.

****
“Assalamualaikum”
 “Waalaikumsalam, laukmu aku taruh meja didekat tangga kamarmu sa”teriak mb isna dari tempat pencucian piring.
 “Iya mbak, makasih ya”
 “Iya sama-sama. Oh ya tadi mbak denger ada suara telfon dari kamarmu. Coba cek iya apa enggak ”
Segera kubuka tas dan benar, tak kutemukan mobile selulerku “Ah iya mbak, Hpku tertinggal dikamar “.Segeraku berlari ke atas dan tak menghiraukan lagi ucapan mbak isna dibawah . “aah batraynya mati !”. Dengan rasa kesal akhirnya aku memilih untuk melanjutkan istirahat siangku tadi dan menunda rasa ingin tahuku tentang siapa  yang menghubungiku.

Tok..tok …”Aissa…” 
terdengar suara ketukan sopan dibalik pintu kamarku. Pasti itu ummi Rita. Suaranya memang sangat lembut. Beliau cantik dan tau cara memposisikan diri seperti Ibunya aissa.
 ” iyaa, ummi”. Ku buka pintu kamarku,lalu ummi masuk dan memilih duduk dikasurku. Menghela nafas sejenak dan memintaku untuk duduk disampingnya. Pemandangan yg sangat kontras dari biasanya, ummi datang dengan mbak isna, mbak haya dan mbak putri. Pantaslah jika sekarang aku bertanya tanya apa yang sedang terjadi. Dari raut wajah ummi dan aura yang tidak seperti biasanya, membuat perasaanku semakin berkecamuk dan mencoba menerka kata apa yang akan diucapkan.”Ada apa dengan ponselmu?”tanyanya penuh khawatir. ”Tidak ada apa-apa, cuma tadi batraynya mati ummi hehe , kenapa emangnya ?” tanyaku heran  melihat wajah ummi yang hendaknya ingin mengatakan sesuatu tapi sedikit enggan. ”Coba kamu charge sekarang, tadi adikmu vira menelepon ummi, dan mengabarkan keadaan ibumu diMadiun”.
 Deg . Dengan tetap berusaha mengatur emosiku dan masih tetap mencoba menerka nerka apa yang telah terjadi aku kembali bertanya ”ada apa dengan Ibu aissa ?”.
”Coba kamu buka ponselmu sekarang” Dengan segera aku mengambil charge dan menyalakan ponselku.

DEG!!
Momen diam tergugu terlama yang aku rasa di tahun ini, terjadi sore ini. Menerima kabar yang seharusnya bisa kuketahui lebih cepat, jika saja aku tak teledor mengisi energi ponselku
5 message 6 misscall
From: +6285735000000
“Mbaak Ibu meninggal mbak !! Kemarin jantung Ibu kambuh lagi, tapi syifa pulang sekolah terlambat, syifa terlambat bawa ibu ke rumah sakit . maaf mb aissaa,syifa yang salah. syifa gagal menggantikan tanggung jawab mb.aissa.Ayah dan mbak aissa cepat pulang ya.... :”)”

 “Innalillahi wa innalillahi roji’un” Sesak, menyesal, merasa bodoh. Seharusnya aku bisa bergegas ada disampingmu ibu, jika aku tidak egois memikirkan beban kuliahku dan mengiyakan pintamu untuk segera mengikuti semester pendekku. Seharusnya aku saat ini memeluk dan menyodorkan bahuku untuk kamu syifa. Seharusnya juga kamu tak menanggung beban sedih ini sendiri disana. Seharusnya, seharusnya dan seharusnya yang hanya ada dalam benakku sekarang dan perlahan air di sela mata meleleh begitu saja.ARGH!! terlambat untuk menyesal sekarang, bodoh !! Peluk sedu dari ummi Rita dan penghuni kost puri ummi salamah pun datang silih berganti untuk menenangkan emosiku. 
”Tuhan mengirimkan pelangi untuk menggantikan hujan.jika kau tau apa sebabnya. Itu krn Dia selalu mendatangkan masalah beserta jawabnya.Kamu harus percaya ada hikmah dibalik kepergiaannya . La tahzan nak, tetaplah semangat. Mungkin Ini cara Tuhan merancang pertemuan dengan salah satu ibu terbaik di dunia” kata ummi rita yang berusaha menghiburku. 
“iya, ummi. Aissa izin pulang ke Madiun sekarang ya” pintaku masih dengan dipenuhi air mata.
 “pulanglah, biar mbak isna yang mengantarmu ke stasiun nanti. Kamu solat ashar dulu ya..” Tatap matanya yang hangat ,menyerupai ibu aissa,
 Ya Tuhan aku rindu pada Ibu..... 

***

“Lembut kukenang, kasihmu ibu.Di dalam hati ku kini menanggung rindu. Engkau tabur kasih seumur masa. Bergetar syahdu oh di dalam nadiku. Tiada ku mampu, membalas jasamu.hanyalah doa oh di setiap waktu...."
salam dari aissa buat Ibu  yang jauh disurga nirwana sana. Semoga Tuhan menyayangi keberadaanmu selalu

No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall