Monday, 31 December 2012

-cinta diam diam2-



Dalam keheningan terkadang lebih banyak rasa yang terungkap. Jauh melebihi rangkaian kata-kata yang mungkin terucap. Tapi, menyimpan perasaan juga bisa menciptakan luka yang pelan-pelan dan tanpa ia sadari ia hanya memakan harapan. Cinta diam- diam..

Seperti kita yg telah mengenal jauh lebih dari nama, namun sebuah kata sapa tak pernah terlintas ketika kita berjumpa. Canda tawa kecil hanya teratmosfir pada sebuah ponsel seluler, itu saja kadang butuh waktu lama untuk menantinya. Karena memang kita telah berkomitmen  dengan ego kita masing masing. Itu saja dinding pembatas kita sebenarnya. Aku dengan jaimku. Kamu dengan malumu. Dan itu telah berlangsung dalam 360 hari, hebat ya haha pikirku dalam hati. Harusnya  kita segera merayakan 1 tahun kebodohan kita ini. Ya masih ada 6pekan lagi jika memang ingin mengakhiri. Tapi entahlah, biarkan sekolah bisu ini yg menjadi saksi. 

“Tumben, berangkat pagi ?” Tanya kiki yang heran melihatku berangkat dini hari
“haha gapapa, lagi istirahatin badan. Masa iya tiap hari harus lari lari nyaingin jalannya guru hhe” jawabku nyengir sambil berjalan santai keluar dari gerbang parkir.
“Mana ada cewek superwoman ngerasa capek baru lari keliling 200m?” sahut Fitri
“haha sudahlah maklumi aja, dia kan juga cewek. Walaupun luarnya ia bilang gotot, dalemnya nyinyir jg.” Tambah Hany menyusul dari belakang . Lalu mereka tertawa bersama karena merasa berhasil meruntuhkan perdikat superwomanku. Ah masa bodoh aku tidak lagi mendengar gurauan mereka, jalanku melambat dan fokusku beralih pada sosok pemuda yang  bercerita tentang harinya kemarin malam. Tapi seperti yg kutebak itu terjadi hanya sekedar lewat virtual text karena kenyataannya  cerita digerbang ini masih saja sama. Sekedar lewat tertunduk tanpa sapa, seperti bukan siapa siapa. Hah, jangan jangan kau terkena amnesia tiap kali datang ke sekolah, dasar. Gerutuku pada keangkuhanmu
***
Cinta diam-diam,
andai disekolah ada tugas  untuk mendiskripsikan tiga kata itu, mungkin aku dan dialah yang akan mendapatkan nilai sempurna. Pikirku konyol kecewa setelah melihat hasil ulanganku. Hah! lagi lagi Mrs. Jeans ini membuatku geram dengan kepelitannya menulis angka istimewa dilembar kerjaku .  Bosan aku dengan celotehannya ini itu tapi tak pernah sebanding dengan cara mengajarnya yg miris. Lebih baik aku ke ke kantin sajalah

Pilihan yang salah untuk menghindar dr pelajarannya mrs.jeans. Pintu kelas ini secara tak sengaja langsung bertatapan pada balik jendela kelasnya, tapi kalau keadaannya seperti ini jadi terlihat seolah seolah sudah terancang  oleh penciptanya untuk pertemuan dua insan bodoh yg tersekap dalam egonya masing-masing. Dari balik jendelanya ia melempar senyum,  tapi aku acuh lalu pergi meluncur ke tempat awal tujuanku.  
BRAK
“aduh, maaf pak hehe keburu keburu”  kataku spontan pada guru b.inggrisku yg kutabrak tepat didepan kantin mb endang tempat dimana aku memboloskan diri dr pelajarannya mrs.jeans . Lagi lagi kepergok Mr.lag haha jodoh kali ya
“Pelajarannya siapa, kok kekantin?”
“mrs. Jeans pak tadi perut saya sakit. Mrs jeans memberi izin saya untuk sarapan dulu dan minum obat hehe” jawabku polos penuh dusta sambil memelaskan muka, mengharap dapat ampun dari guru satu ini.
“Yasudah, cepet sembuh perutnya”
“iya pak” jawabku ngacir kekelas
duh sial banget . Cepat pulang deh cepet pulang. Harapku dalam hati

***
Oke, sekarang sudah malam yg keberapa kita kembali dalam rutinitas seperti ini tanyaku bodoh yang tak mungkin didengar oleh si empunya nomer ini. Pernah suatu hari pertengkaran kecilku dengannya dimulai, kami mulai memperdebatkan ketidaknyamanan ini, dan lagi lagi kami bertahan pada ego masing masing. Aku yg tetap menyalahkan keangkuhan diammu, kamu jg yg menyalahkan kejaimanku. Dan aku tetap bersikukuh pada pendirianku , karena mana mungkin aku yg memulai. Hati yang dihijab memang seharusnya tidak tersingkap. Jika kau ingin tau apa aku menyukaimu berusahalah gerak dari diammu.  Jangan membuatku  berpikir seolah olah dari kita memang tidak ada yg ingin memulainya duluan. Atau memang sebenarnya tidak pernah ada cinta diantara kita ?halah yasudahlah…

***
“aku pulang dulu ya, nyapunya yang bersih :p daaa” ucap rikza sembari meninggalkanku yg  sudah siap membabu cantik dikelas ini. Kebetulan hari ini adalah piketku. Jadi terpaksa aku harus menahan waktuku untuk pulang



Dan kali ini kantinlah yang terlihat seperti dirancang untuk pertemuanku dengannya. Niatku yang hanya untuk mengambil kain pel didekat kantin menjadi sangat begitu menyenangkan. Sekali lagi aku melayangkan pandangan  ke sekelilingku, berharap tidak ada orang selain aku dan kamu. Karena mungkin dengan begitu kau akan meluluhkan rasa malumu dan akan memulai obrolan itu. Tapi tidak, itu salah. Lagi lagi kau senyum lalu mengalihkan pandanganmu.  Tidak adakah cara lain selain kau mengisyaratkan senyum lalu pergi tanpa alasan, tuan ?Sudah 1 tahun berlalu  kau dan aku masih saja begitu. 

Adakah yang mampu membelenggu waktu dan mengijinkan kami untuk sekedar  berlatih kata kata? Agar aku dan kamu pun tidak semakin terseok menata kata, menata rasa dan menata segalanya. Tapi waktu … tak pernah kenal kata menunggu.  Maaf ,cinta memang cinta, tapi kecewa tetaplah kecewa begitu pula dengan luka. Jika kau mau menahanku tolong kenalkan aku pada waktu, dengar dengar dia ahli dalam menyembuhkan luka. Sesuai dengan yang aku butuhkan bukan ?Aku terlalu luka untuk menunggumu. Jangan datang lagi. Sampai bisumu hilang dan kepastianmu terbilang.  Jika tiba waktu itu datang. Aku berjanji akan menerimamu kembali. Biarkan aku menghilangkan lukaku dan menata lagi hatiku, kumohon tetaplah pada tempatmu.
***

No comments

Post a Comment

Monday, 31 December 2012

-cinta diam diam2-



Dalam keheningan terkadang lebih banyak rasa yang terungkap. Jauh melebihi rangkaian kata-kata yang mungkin terucap. Tapi, menyimpan perasaan juga bisa menciptakan luka yang pelan-pelan dan tanpa ia sadari ia hanya memakan harapan. Cinta diam- diam..

Seperti kita yg telah mengenal jauh lebih dari nama, namun sebuah kata sapa tak pernah terlintas ketika kita berjumpa. Canda tawa kecil hanya teratmosfir pada sebuah ponsel seluler, itu saja kadang butuh waktu lama untuk menantinya. Karena memang kita telah berkomitmen  dengan ego kita masing masing. Itu saja dinding pembatas kita sebenarnya. Aku dengan jaimku. Kamu dengan malumu. Dan itu telah berlangsung dalam 360 hari, hebat ya haha pikirku dalam hati. Harusnya  kita segera merayakan 1 tahun kebodohan kita ini. Ya masih ada 6pekan lagi jika memang ingin mengakhiri. Tapi entahlah, biarkan sekolah bisu ini yg menjadi saksi. 

“Tumben, berangkat pagi ?” Tanya kiki yang heran melihatku berangkat dini hari
“haha gapapa, lagi istirahatin badan. Masa iya tiap hari harus lari lari nyaingin jalannya guru hhe” jawabku nyengir sambil berjalan santai keluar dari gerbang parkir.
“Mana ada cewek superwoman ngerasa capek baru lari keliling 200m?” sahut Fitri
“haha sudahlah maklumi aja, dia kan juga cewek. Walaupun luarnya ia bilang gotot, dalemnya nyinyir jg.” Tambah Hany menyusul dari belakang . Lalu mereka tertawa bersama karena merasa berhasil meruntuhkan perdikat superwomanku. Ah masa bodoh aku tidak lagi mendengar gurauan mereka, jalanku melambat dan fokusku beralih pada sosok pemuda yang  bercerita tentang harinya kemarin malam. Tapi seperti yg kutebak itu terjadi hanya sekedar lewat virtual text karena kenyataannya  cerita digerbang ini masih saja sama. Sekedar lewat tertunduk tanpa sapa, seperti bukan siapa siapa. Hah, jangan jangan kau terkena amnesia tiap kali datang ke sekolah, dasar. Gerutuku pada keangkuhanmu
***
Cinta diam-diam,
andai disekolah ada tugas  untuk mendiskripsikan tiga kata itu, mungkin aku dan dialah yang akan mendapatkan nilai sempurna. Pikirku konyol kecewa setelah melihat hasil ulanganku. Hah! lagi lagi Mrs. Jeans ini membuatku geram dengan kepelitannya menulis angka istimewa dilembar kerjaku .  Bosan aku dengan celotehannya ini itu tapi tak pernah sebanding dengan cara mengajarnya yg miris. Lebih baik aku ke ke kantin sajalah

Pilihan yang salah untuk menghindar dr pelajarannya mrs.jeans. Pintu kelas ini secara tak sengaja langsung bertatapan pada balik jendela kelasnya, tapi kalau keadaannya seperti ini jadi terlihat seolah seolah sudah terancang  oleh penciptanya untuk pertemuan dua insan bodoh yg tersekap dalam egonya masing-masing. Dari balik jendelanya ia melempar senyum,  tapi aku acuh lalu pergi meluncur ke tempat awal tujuanku.  
BRAK
“aduh, maaf pak hehe keburu keburu”  kataku spontan pada guru b.inggrisku yg kutabrak tepat didepan kantin mb endang tempat dimana aku memboloskan diri dr pelajarannya mrs.jeans . Lagi lagi kepergok Mr.lag haha jodoh kali ya
“Pelajarannya siapa, kok kekantin?”
“mrs. Jeans pak tadi perut saya sakit. Mrs jeans memberi izin saya untuk sarapan dulu dan minum obat hehe” jawabku polos penuh dusta sambil memelaskan muka, mengharap dapat ampun dari guru satu ini.
“Yasudah, cepet sembuh perutnya”
“iya pak” jawabku ngacir kekelas
duh sial banget . Cepat pulang deh cepet pulang. Harapku dalam hati

***
Oke, sekarang sudah malam yg keberapa kita kembali dalam rutinitas seperti ini tanyaku bodoh yang tak mungkin didengar oleh si empunya nomer ini. Pernah suatu hari pertengkaran kecilku dengannya dimulai, kami mulai memperdebatkan ketidaknyamanan ini, dan lagi lagi kami bertahan pada ego masing masing. Aku yg tetap menyalahkan keangkuhan diammu, kamu jg yg menyalahkan kejaimanku. Dan aku tetap bersikukuh pada pendirianku , karena mana mungkin aku yg memulai. Hati yang dihijab memang seharusnya tidak tersingkap. Jika kau ingin tau apa aku menyukaimu berusahalah gerak dari diammu.  Jangan membuatku  berpikir seolah olah dari kita memang tidak ada yg ingin memulainya duluan. Atau memang sebenarnya tidak pernah ada cinta diantara kita ?halah yasudahlah…

***
“aku pulang dulu ya, nyapunya yang bersih :p daaa” ucap rikza sembari meninggalkanku yg  sudah siap membabu cantik dikelas ini. Kebetulan hari ini adalah piketku. Jadi terpaksa aku harus menahan waktuku untuk pulang



Dan kali ini kantinlah yang terlihat seperti dirancang untuk pertemuanku dengannya. Niatku yang hanya untuk mengambil kain pel didekat kantin menjadi sangat begitu menyenangkan. Sekali lagi aku melayangkan pandangan  ke sekelilingku, berharap tidak ada orang selain aku dan kamu. Karena mungkin dengan begitu kau akan meluluhkan rasa malumu dan akan memulai obrolan itu. Tapi tidak, itu salah. Lagi lagi kau senyum lalu mengalihkan pandanganmu.  Tidak adakah cara lain selain kau mengisyaratkan senyum lalu pergi tanpa alasan, tuan ?Sudah 1 tahun berlalu  kau dan aku masih saja begitu. 

Adakah yang mampu membelenggu waktu dan mengijinkan kami untuk sekedar  berlatih kata kata? Agar aku dan kamu pun tidak semakin terseok menata kata, menata rasa dan menata segalanya. Tapi waktu … tak pernah kenal kata menunggu.  Maaf ,cinta memang cinta, tapi kecewa tetaplah kecewa begitu pula dengan luka. Jika kau mau menahanku tolong kenalkan aku pada waktu, dengar dengar dia ahli dalam menyembuhkan luka. Sesuai dengan yang aku butuhkan bukan ?Aku terlalu luka untuk menunggumu. Jangan datang lagi. Sampai bisumu hilang dan kepastianmu terbilang.  Jika tiba waktu itu datang. Aku berjanji akan menerimamu kembali. Biarkan aku menghilangkan lukaku dan menata lagi hatiku, kumohon tetaplah pada tempatmu.
***

No comments:

Post a Comment

© 29 September
Maira Gall